@ Bab 8 : Mulai Sholat Khusyuk



BAB 8

MENGENAL PENYAKIT HATI YANG MERUSAK KHUSYUK

8.1 Mengapa Hati Sulit Khusyuk?

Pernahkah Anda mengalami hal ini?

Tubuh sedang berdiri dalam sholat, tetapi pikiran sedang berada di tempat lain.

Lisan membaca Al-Fatihah, tetapi hati sedang memikirkan pekerjaan.

Dahi bersujud, tetapi pikiran sedang menghitung keuntungan, mengingat masalah, atau merencanakan sesuatu.

Sholat selesai.

Namun hati tidak merasakan apa-apa.

Tidak ada ketenangan.

Tidak ada air mata.

Tidak ada perubahan.

Lalu muncul pertanyaan yang jujur:

"Mengapa aku begitu sulit khusyuk?"

Sebagian orang mengira masalahnya terletak pada metode.

Sebagian lagi mengira masalahnya karena kurangnya ilmu.

Padahal sering kali akar masalahnya lebih dalam.

Yaitu hati yang sedang sakit.

Sebagaimana tubuh dapat mengalami penyakit, hati pun dapat mengalami penyakit.

Bahkan penyakit hati jauh lebih berbahaya.

Penyakit tubuh paling jauh menyebabkan kematian jasad.

Tetapi penyakit hati dapat menyebabkan matinya cahaya iman.

Allah berfirman:

﴿ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ﴾

Latin:

Fī qulūbihim maradhun fazādahumullāhu maradhā.

Artinya:

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya."

(QS. Al-Baqarah: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa hati bisa sakit.

Dan ketika hati sakit, salah satu gejalanya adalah sulit merasakan nikmat ibadah.

Karena itu sebelum mencari cara khusyuk, kita perlu mengenali apa yang sedang menghalangi hati kita dari Allah.


8.2 Lalai: Musuh yang Paling Dekat

Penyakit hati yang paling sering merusak kekhusyukan adalah ghaflah, yaitu kelalaian.

Kelalaian bukan berarti tidak mengetahui Allah.

Kelalaian adalah mengetahui Allah tetapi jarang mengingat-Nya.

Banyak orang beriman kepada Allah.

Tetapi dalam kesehariannya, Allah hanya hadir sesekali dalam pikirannya.

Saat mendapat musibah, ia ingat Allah.

Saat kesulitan ekonomi, ia ingat Allah.

Saat sakit, ia ingat Allah.

Namun ketika hidup berjalan lancar, Allah perlahan terlupakan.

Padahal hati yang jarang mengingat Allah akan sulit menghadirkan Allah dalam sholat.

Ibarat seorang sahabat yang jarang ditemui.

Hubungannya menjadi renggang.

Demikian pula hubungan manusia dengan Allah.

Semakin jarang mengingat Allah, semakin lemah rasa kedekatan kepada-Nya.

Allah berfirman:

﴿ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ ﴾

Latin:

Wa lā takun minal ghāfilīn.

Artinya:

"Janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai."

(QS. Al-A'raf: 205)

Betapa banyak manusia yang hidup dalam kelalaian.

Mereka sibuk mempersiapkan kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.

Mereka sibuk mempercantik rumah, tetapi lupa memperindah hati.

Mereka sibuk menjaga citra di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Dan kelalaian seperti inilah yang perlahan-lahan mengeringkan hati.


8.3 Riya: Ketika Manusia Lebih Penting daripada Allah

Penyakit hati berikutnya adalah riya.

Riya adalah melakukan amal karena ingin dilihat manusia.

Mungkin kita berpikir bahwa riya hanya terjadi pada orang-orang tertentu.

Padahal riya dapat menyelinap ke dalam hati siapa saja.

Kadang sangat halus.

Sangat tersembunyi.

Seseorang merasa lebih semangat beribadah ketika dilihat orang lain.

Lebih khusyuk ketika menjadi imam.

Lebih rajin ketika mendapat pujian.

Namun ketika sendirian, semangat itu berkurang.

Inilah salah satu tanda bahwa hati sedang diuji oleh riya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ

Para sahabat bertanya:

"Apa syirik kecil itu wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

الرِّيَاءُ

Latin:

Ar-riyā'.

Artinya:

"Riya."

(HR. Ahmad)

Mengapa riya sangat berbahaya?

Karena ia memalingkan hati dari Allah kepada manusia.

Padahal inti sholat adalah menghadap Allah.

Ketika hati sibuk mencari penilaian manusia, kekhusyukan akan hilang.

Karena fokus ibadah telah bergeser.

Dari Allah kepada makhluk.


8.4 Cinta Dunia yang Berlebihan

Dunia bukan musuh.

Islam tidak melarang manusia memiliki harta, usaha, rumah, kendaraan, atau kedudukan.

Yang menjadi masalah adalah ketika dunia masuk ke dalam hati secara berlebihan.

Perahu bisa berlayar di atas air.

Tetapi jika air masuk ke dalam perahu, perahu itu akan tenggelam.

Demikian pula manusia.

Dunia boleh berada di tangan.

Tetapi jangan sampai menguasai hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

Latin:

Hubbud dunyā ra'su kulli khathī'ah.

Artinya:

"Cinta dunia adalah pangkal berbagai kesalahan."

(Makna ini masyhur dalam kitab-kitab hikmah dan targhib)

Ketika dunia terlalu memenuhi hati, seseorang akan sulit menikmati ibadah.

Sholat terasa mengganggu bisnis.

Dzikir terasa membuang waktu.

Pengajian terasa mengurangi kesempatan mencari keuntungan.

Bukan karena ibadah itu berat.

Tetapi karena hati sudah terlalu dipenuhi oleh dunia.

Dan hati yang penuh oleh dunia akan sulit dipenuhi oleh cahaya Allah.


8.5 Kesombongan yang Tersembunyi

Penyakit hati berikutnya yang sering tidak disadari adalah kesombongan.

Kesombongan tidak selalu tampak dalam bentuk meremehkan orang lain secara terang-terangan.

Kadang ia tersembunyi dalam bentuk merasa diri lebih baik.

Merasa lebih alim.

Merasa lebih saleh.

Merasa lebih berhak masuk surga.

Merasa lebih benar daripada orang lain.

Padahal semua kebaikan yang kita miliki berasal dari Allah.

Allah berfirman:

﴿ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ ﴾

Latin:

Falā tuzakkū anfusakum, huwa a'lamu bimanittaqā.

Artinya:

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Allah lebih mengetahui siapa yang bertakwa."

(QS. An-Najm: 32)

Kesombongan adalah penyakit yang sangat merusak.

Karena hati yang sombong sulit menerima nasihat.

Sulit melihat kekurangan dirinya.

Dan sulit merasakan kebutuhan kepada Allah.

Padahal kekhusyukan lahir dari hati yang rendah di hadapan Allah.

Bukan dari hati yang merasa tinggi.


8.6 Dosa yang Tidak Diikuti Taubat

Setiap manusia pasti pernah berbuat salah.

Tidak ada manusia yang sempurna.

Bahkan orang saleh pun tidak luput dari kekeliruan.

Namun perbedaannya terletak pada sikap setelah melakukan kesalahan.

Sebagian orang segera bertaubat.

Sebagian lagi membiarkannya.

Lalu dosa itu menumpuk.

Sedikit demi sedikit hati menjadi gelap.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Latin:

Kullu banī Ādama khaṭṭā', wa khairul khaṭṭā'īnat tawwābūn.

Artinya:

"Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat."

(HR. Tirmidzi)

Orang yang sering bertaubat akan memiliki hati yang lebih lembut.

Lebih mudah tersentuh.

Lebih mudah menangis.

Lebih mudah merasakan kehadiran Allah.

Karena taubat membersihkan karat-karat yang menutupi hati.


8.7 Membersihkan Hati dengan Dzikir dan Taubat

Jika hati bisa sakit, maka hati juga bisa disembuhkan.

Obat utama hati adalah mengingat Allah.

Allah berfirman:

﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾

Latin:

Alā bidzikrillāhi tathma'innul qulūb.

Artinya:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Dzikir bukan hanya bacaan lisan.

Dzikir adalah upaya menghidupkan kembali hubungan hati dengan Allah.

Ketika seseorang memperbanyak istighfar.

Memperbanyak sholawat.

Memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Memperbanyak mengingat Allah.

Maka perlahan hati mulai bersih.

Dan ketika hati mulai bersih, kekhusyukan menjadi lebih mudah hadir.

Bukan karena kita sempurna.

Tetapi karena hati mulai kembali kepada Allah.


8.8 Jangan Putus Asa dengan Keadaan Hati

Ada orang yang berkata:

"Hati saya terlalu kotor."

"Saya sudah terlalu banyak dosa."

"Saya tidak mungkin menjadi orang yang khusyuk."

Pikiran seperti ini adalah jebakan setan.

Karena Allah tidak pernah menutup pintu taubat.

Selama nafas masih ada, kesempatan untuk berubah masih terbuka.

Betapa banyak pendosa yang akhirnya menjadi wali Allah.

Betapa banyak orang yang dahulu jauh dari agama kemudian menjadi pencinta Al-Qur'an.

Betapa banyak hati yang keras berubah menjadi lembut karena taubat.

Karena itu jangan pernah menyerah.

Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Yang penting bukan seberapa jauh kita pernah jatuh.

Yang penting adalah seberapa sungguh-sungguh kita kembali kepada Allah.


8.9 Penutup Bab 8: Membersihkan Hati Sebelum Mencari Khusyuk

Banyak orang mencari teknik khusyuk.

Padahal sebelum mencari teknik, kita perlu membersihkan hati.

Karena hati yang penuh kelalaian akan sulit fokus.

Hati yang dipenuhi riya akan sulit ikhlas.

Hati yang dipenuhi dunia akan sulit merasakan nikmat ibadah.

Hati yang dipenuhi kesombongan akan sulit tunduk kepada Allah.

Maka tugas pertama seorang pencari khusyuk bukanlah mencari metode yang rumit.

Tetapi membersihkan hatinya.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Dengan taubat.

Dengan dzikir.

Dengan muhasabah.

Dengan memperbaiki hubungan kepada Allah.

Karena ketika hati mulai bersih, kekhusyukan akan datang sebagai hadiah dari Allah.

Bukan sekadar hasil usaha manusia.


Muhasabah Bab 8

Renungkanlah malam ini:

  • Apa penyakit hati yang paling dominan dalam diri saya?
  • Apakah saya lebih banyak mengingat dunia daripada mengingat Allah?
  • Apakah saya masih mencari pujian manusia dalam ibadah?
  • Kapan terakhir kali saya menangis karena dosa-dosa saya?
  • Sudahkah saya sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah?

Karena sesungguhnya jalan menuju sholat khusyuk bukan hanya melalui ilmu.

Tetapi juga melalui hati yang terus dibersihkan dan dikembalikan kepada Allah.

(Bersambung ke Bab 9: Menjadikan Sholat sebagai Sumber Kekuatan Hidup).