BAB 9
MENJADIKAN SHOLAT SEBAGAI SUMBER KEKUATAN HIDUP
9.1 Mengapa Kita Mudah Lelah Menjalani Hidup?
Pernahkah Anda merasa lelah, padahal pekerjaan belum terlalu banyak?
Pernahkah Anda merasa letih, padahal tubuh sebenarnya masih kuat?
Pernahkah Anda merasa ingin menyerah, bukan karena tidak mampu, tetapi karena hati terasa begitu berat?
Inilah yang dialami banyak orang hari ini.
Mereka tidak hanya lelah secara fisik.
Mereka lelah secara batin.
Mereka lelah menghadapi tuntutan hidup.
Lelah memikirkan masa depan.
Lelah menghadapi konflik keluarga.
Lelah menghadapi tekanan ekonomi.
Lelah menghadapi penilaian manusia.
Di luar tampak tersenyum.
Namun di dalam hati sedang berjuang sendirian.
Sayangnya, banyak orang berusaha mengobati kelelahan jiwa dengan cara yang keliru.
Ada yang mencari hiburan tanpa batas.
Ada yang tenggelam dalam media sosial.
Ada yang melarikan diri ke kesibukan.
Ada yang mengejar kesenangan sesaat.
Namun setelah semuanya selesai, hatinya tetap kosong.
Mengapa?
Karena kelelahan jiwa tidak bisa disembuhkan hanya dengan istirahat fisik.
Jiwa membutuhkan sesuatu yang lebih dalam.
Jiwa membutuhkan hubungan dengan Allah.
Dan salah satu sarana terbesar yang Allah berikan untuk menguatkan jiwa adalah sholat.
Banyak orang melihat sholat sebagai kewajiban.
Padahal Allah menjadikannya sebagai pertolongan.
Allah berfirman:
﴿ وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴾
Latin:
Wasta'īnū bish-shabri wash-shalāh, wa innahā lakabīratun illā 'alal khāsyi'īn.
Artinya:
"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
(QS. Al-Baqarah: 45)
Perhatikan baik-baik.
Allah tidak mengatakan bahwa sholat adalah beban.
Allah menyebut sholat sebagai penolong.
Artinya, ketika hidup terasa berat, salah satu tempat pertama yang seharusnya kita datangi adalah sholat.
9.2 Rasulullah ﷺ dan Sholat sebagai Tempat Mengadu
Ketika kita menghadapi masalah, kepada siapa biasanya kita mengadu?
Sebagian mengadu kepada teman.
Sebagian mengadu kepada keluarga.
Sebagian menyimpannya sendirian.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat indah.
Setiap kali menghadapi persoalan besar, beliau kembali kepada sholat.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
كَانَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
Latin:
Kāna idzā ḥazabahu amrun shallā.
Artinya:
"Apabila Rasulullah menghadapi suatu urusan yang berat, beliau segera melaksanakan sholat."
(HR. Abu Dawud)
Subhanallah.
Betapa berbeda cara pandang Rasulullah dengan banyak manusia hari ini.
Ketika masalah datang, kita sering semakin jauh dari Allah.
Kita sibuk memikirkan solusi.
Sibuk mencari jalan keluar.
Sibuk mengeluh.
Sibuk panik.
Sedangkan Rasulullah justru mendekat kepada Allah.
Karena beliau memahami bahwa sumber kekuatan bukan berasal dari dirinya.
Sumber kekuatan berasal dari Allah.
Inilah pelajaran besar yang sering terlupakan.
Kita mungkin memiliki banyak kemampuan.
Namun ada saat-saat dalam hidup ketika kemampuan manusia memiliki batas.
Pada saat itulah kita membutuhkan pertolongan Allah.
Dan sholat adalah salah satu pintu terbesar untuk memohon pertolongan itu.
9.3 Sholat: Tempat Hati yang Lelah Beristirahat
Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak kecil yang ketakutan?
Ketika ia merasa takut, ia akan berlari menuju ibunya.
Bukan karena ibunya mampu menyelesaikan semua masalah.
Tetapi karena ia merasa aman di dekat ibunya.
Demikian pula seorang hamba terhadap Allah.
Ketika hati merasa takut.
Ketika hidup terasa berat.
Ketika masalah terasa menyesakkan.
Seharusnya ia berlari kepada Allah.
Dan salah satu cara berlari kepada Allah adalah melalui sholat.
Sholat bukan sekadar rangkaian gerakan.
Sholat adalah tempat hati beristirahat.
Tempat jiwa menemukan ketenangan.
Tempat seorang hamba meletakkan seluruh beban hidupnya di hadapan Allah.
Betapa banyak masalah yang tidak berubah setelah sholat.
Tetapi hati yang menghadapinya berubah.
Dan terkadang yang kita butuhkan bukan masalah yang hilang.
Melainkan hati yang lebih kuat untuk menghadapinya.
9.4 Sholat Mengajarkan Kesabaran
Hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Ada doa yang belum terkabul.
Ada harapan yang tertunda.
Ada rencana yang tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan.
Pada saat seperti itu, manusia mudah kecewa.
Mudah marah.
Mudah putus asa.
Namun sholat mengajarkan kesabaran.
Lima kali sehari kita dipanggil untuk kembali kepada Allah.
Lima kali sehari kita diajak mengingat bahwa kehidupan ini berada dalam pengaturan Allah.
Lima kali sehari kita diajak menyerahkan diri kepada-Nya.
Semakin seseorang menjaga sholatnya, semakin ia belajar menerima kenyataan hidup dengan bijaksana.
Karena ia sadar bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengatur takdir.
Allah berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴾
Latin:
Innallāha ma'ash shābirīn.
Artinya:
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah: 153)
Dan salah satu sekolah kesabaran terbesar adalah sholat.
9.5 Ketika Sholat Mengubah Cara Pandang terhadap Ujian
Ada dua orang yang menghadapi masalah yang sama.
Yang satu hancur.
Yang satu menjadi lebih kuat.
Apa perbedaannya?
Perbedaannya bukan pada masalah.
Perbedaannya ada pada cara memandang masalah.
Orang yang jauh dari Allah melihat ujian sebagai akhir dari segalanya.
Sedangkan orang yang dekat kepada Allah melihat ujian sebagai bagian dari perjalanan menuju Allah.
Sholat membantu kita melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.
Ketika berdiri dalam sholat, kita diingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Ketika membaca Al-Fatihah, kita diingatkan bahwa Allah adalah Rabb semesta alam.
Ketika sujud, kita diingatkan bahwa kita hanyalah hamba.
Dan ketika salam, kita kembali ke dunia dengan hati yang lebih tenang.
Karena itu sholat bukan hanya ibadah.
Sholat adalah pendidikan jiwa.
Pendidikan yang mengubah cara kita memandang kehidupan.
9.6 Belajar Ikhlas Melalui Sholat
Salah satu sumber penderitaan manusia adalah keinginan mengendalikan segala sesuatu.
Kita ingin semua berjalan sesuai rencana.
Kita ingin semua orang memahami kita.
Kita ingin semua usaha berhasil.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Di sinilah sholat mengajarkan ikhlas.
Setiap kali kita sujud, sebenarnya kita sedang berkata kepada Allah:
"Ya Allah, aku menerima bahwa Engkaulah pengatur hidupku."
"Ya Allah, aku menerima bahwa ilmu-Mu lebih luas daripada ilmuku."
"Ya Allah, aku menerima bahwa keputusan-Mu lebih baik daripada keinginanku."
Inilah inti dari ikhlas.
Bukan menyerah tanpa usaha.
Tetapi menerima bahwa setelah berusaha, hasil akhirnya berada di tangan Allah.
Orang yang ikhlas akan lebih tenang.
Karena ia tidak memikul beban yang bukan menjadi tugasnya.
Tugasnya adalah berusaha.
Sedangkan hasilnya ia serahkan kepada Allah.
9.7 Sholat Menguatkan Hati Saat Kehilangan
Setiap manusia pasti pernah kehilangan.
Kehilangan orang yang dicintai.
Kehilangan kesehatan.
Kehilangan kesempatan.
Kehilangan harapan.
Dan kehilangan selalu menyakitkan.
Bahkan para nabi pun pernah menangis karena kehilangan.
Islam tidak melarang kesedihan.
Yang Islam ajarkan adalah bagaimana menghadapi kesedihan dengan benar.
Sholat menjadi tempat terbaik untuk membawa luka-luka itu kepada Allah.
Karena Allah memahami kesedihan yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.
Betapa banyak air mata yang jatuh dalam sujud.
Betapa banyak hati yang sembuh setelah berbicara kepada Allah dalam kesendirian.
Bukan karena masalah langsung selesai.
Tetapi karena hati merasakan bahwa Allah selalu bersama-Nya.
Dan sering kali itu sudah cukup untuk membuat seseorang tetap bertahan.
9.8 Ketika Sholat Menjadi Sumber Ketangguhan
Ketangguhan bukan berarti tidak pernah menangis.
Ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa sedih.
Ketangguhan bukan berarti tidak pernah jatuh.
Ketangguhan adalah kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh.
Dan salah satu sumber ketangguhan terbesar seorang mukmin adalah sholat.
Karena setiap hari ia diingatkan bahwa Allah selalu ada.
Setiap hari ia diingatkan bahwa rahmat Allah lebih besar daripada masalahnya.
Setiap hari ia diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin mampu bertahan dalam berbagai keadaan.
Ketika berhasil, ia bersyukur.
Ketika gagal, ia bersabar.
Ketika mendapat nikmat, ia tidak sombong.
Ketika mendapat ujian, ia tidak putus asa.
Karena hatinya selalu kembali kepada Allah.
9.9 Penutup Bab 9: Jadikan Sholat Sebagai Tempat Pulang
Dalam perjalanan hidup, kita akan menemukan banyak hal yang mengecewakan.
Manusia bisa berubah.
Keadaan bisa berubah.
Harta bisa hilang.
Kesehatan bisa menurun.
Kekuatan bisa berkurang.
Namun ada satu tempat yang selalu terbuka.
Yaitu pintu Allah.
Dan sholat adalah jalan menuju pintu itu.
Karena itu jangan jadikan sholat hanya sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.
Jadikan sholat sebagai tempat pulang.
Tempat mengadu.
Tempat menangis.
Tempat bersyukur.
Tempat meminta pertolongan.
Tempat memperbaiki diri.
Karena hati yang terbiasa pulang kepada Allah akan memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh hati yang hanya bergantung kepada dunia.
Muhasabah Bab 9
Renungkanlah dengan jujur:
- Ketika masalah datang, kepada siapa saya pertama kali mengadu?
- Apakah sholat sudah menjadi sumber kekuatan hidup saya?
- Apakah saya lebih banyak mengeluh atau lebih banyak berdoa?
- Kapan terakhir kali saya menangis kepada Allah dalam sujud?
- Apakah saya menjadikan sholat sebagai kebutuhan atau sekadar kewajiban?
Karena sesungguhnya orang yang paling kuat bukanlah orang yang tidak pernah memiliki masalah.
Tetapi orang yang selalu memiliki jalan kembali kepada Allah ketika masalah datang.
Dan jalan itu adalah sholat.
(Bersambung ke Bab 10: Menjemput Nikmat Khusyuk Sepanjang Hayat).