@ Bab 7 : Mulai Sholat Khusyuk



BAB 7

MEMBANGUN KESADARAN IHSAN DALAM SHOLAT

7.1 Ketika Tidak Ada yang Melihat, Siapa yang Sedang Kita Takuti?

Pernahkah Anda memperhatikan sesuatu yang menarik dalam kehidupan manusia?

Ketika ada atasan, kita berusaha bekerja dengan baik.

Ketika ada guru, kita berusaha bersikap sopan.

Ketika ada tamu, kita berusaha menjaga sikap.

Ketika ada kamera pengawas, kita lebih berhati-hati.

Namun anehnya, ketika tidak ada manusia yang melihat, sering kali kita menjadi orang yang berbeda.

Mengapa?

Karena manusia secara alami akan menjaga dirinya ketika merasa diawasi.

Masalahnya, banyak orang lebih merasakan pengawasan manusia daripada pengawasan Allah.

Kita takut kehilangan penilaian manusia.

Kita takut kehilangan penghargaan manusia.

Kita takut kehilangan pujian manusia.

Tetapi sering kali tidak takut kehilangan kedekatan dengan Allah.

Inilah salah satu sebab mengapa sholat kehilangan ruhnya.

Tubuh berdiri menghadap kiblat, tetapi hati tidak merasa sedang berada di hadapan Allah.

Padahal inti dari kekhusyukan adalah kesadaran bahwa Allah sedang melihat kita.

Bukan hanya saat sholat.

Tetapi setiap saat.

Dalam kesendirian.

Dalam keramaian.

Dalam keadaan senang maupun sedih.

Dalam keadaan taat maupun ketika tergoda berbuat maksiat.

Allah selalu melihat.

Allah selalu mengetahui.

Allah selalu memperhatikan.

Ketika kesadaran ini hidup di dalam hati, seseorang akan memiliki benteng yang sangat kuat.

Benteng itu bernama ihsan.


7.2 Apa Itu Ihsan?

Suatu hari Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ dalam rupa seorang laki-laki.

Beliau bertanya tentang Islam.

Beliau bertanya tentang iman.

Kemudian beliau bertanya tentang ihsan.

Rasulullah ﷺ menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Latin:

An ta'budallāha ka-annaka tarāh, fa illam takun tarāhu fa innahu yarāk.

Artinya:

"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah definisi ihsan yang sangat terkenal.

Perhatikan baik-baik.

Rasulullah tidak mengatakan bahwa ihsan adalah banyaknya ilmu.

Tidak mengatakan bahwa ihsan adalah panjangnya ibadah.

Tidak mengatakan bahwa ihsan adalah banyaknya hafalan.

Ihsan adalah kesadaran.

Kesadaran bahwa Allah hadir dalam kehidupan kita.

Kesadaran bahwa Allah melihat kita.

Kesadaran bahwa Allah mengetahui isi hati kita.

Kesadaran bahwa tidak ada satu pun gerakan yang tersembunyi dari-Nya.

Inilah tingkat keimanan yang melahirkan kekhusyukan.

Karena seseorang yang merasa diperhatikan Allah akan lebih mudah menjaga dirinya.


7.3 Mengapa Kita Mudah Lalai?

Jika ihsan begitu penting, mengapa banyak manusia sulit merasakannya?

Karena hati manusia mudah tertutup oleh dunia.

Setiap hari kita disibukkan oleh pekerjaan.

Disibukkan oleh berita.

Disibukkan oleh media sosial.

Disibukkan oleh target hidup.

Disibukkan oleh berbagai urusan yang tidak pernah selesai.

Akibatnya perhatian hati terpecah ke mana-mana.

Sedangkan kesadaran kepada Allah semakin melemah.

Ibarat cermin yang tertutup debu, hati yang terlalu sibuk dengan dunia akan kehilangan kemampuan memantulkan cahaya keimanan.

Bukan karena Allah jauh.

Tetapi karena hati terlalu penuh dengan selain Allah.

Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa hati manusia ibarat sebuah wadah.

Jika wadah itu penuh dengan dunia, maka sedikit ruang yang tersisa untuk mengingat Allah.

Karena itu para ulama selalu mengingatkan pentingnya membersihkan hati melalui dzikir, taubat, dan muhasabah.

Sebab hati yang bersih lebih mudah merasakan kehadiran Allah.


7.4 Merasakan Pengawasan Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak orang mengira bahwa ihsan hanya diperlukan ketika sholat.

Padahal ihsan harus hidup dalam seluruh aktivitas kehidupan.

Ketika bekerja.

Ketika berdagang.

Ketika memimpin.

Ketika menjadi suami.

Ketika menjadi istri.

Ketika menjadi orang tua.

Ketika menjadi anak.

Semua membutuhkan ihsan.

Mengapa?

Karena manusia bisa saja berhasil menipu manusia lain.

Tetapi tidak pernah bisa menipu Allah.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾

Latin:

Innallāha kāna 'alaikum raqībā.

Artinya:

"Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian."

(QS. An-Nisa': 1)

Ayat ini sangat pendek.

Namun jika benar-benar dipahami, ia mampu mengubah kehidupan seseorang.

Seseorang yang yakin Allah mengawasinya tidak akan mudah berbuat curang.

Tidak mudah berbohong.

Tidak mudah mengkhianati amanah.

Tidak mudah melakukan dosa dalam kesendirian.

Karena ia sadar bahwa Allah melihat semuanya.

Dan ketika kesadaran ini tumbuh, kualitas ibadah juga akan meningkat.


7.5 Muraqabah: Seni Menghadirkan Allah dalam Hati

Para ulama tasawuf menyebut kesadaran diawasi Allah dengan istilah muraqabah.

Muraqabah berarti menghadirkan keyakinan bahwa Allah selalu mengetahui keadaan kita.

Bukan hanya apa yang kita lakukan.

Tetapi juga apa yang kita pikirkan.

Apa yang kita sembunyikan.

Apa yang kita rasakan.

Allah berfirman:

﴿ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ ﴾

Latin:

Ya'lamu khā'inatal a'yuni wa mā tukhfis shudūr.

Artinya:

"Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati."

(QS. Ghafir: 19)

Betapa menakjubkan ayat ini.

Allah bukan hanya mengetahui apa yang tampak.

Allah juga mengetahui apa yang tersembunyi.

Bahkan lintasan hati yang tidak diketahui orang lain.

Kesadaran inilah yang membuat seorang hamba berhati-hati.

Bukan karena takut kepada manusia.

Tetapi karena malu kepada Allah.

Dan rasa malu kepada Allah adalah salah satu tanda hidupnya iman.


7.6 Ketika Sholat Menjadi Pertemuan, Bukan Kewajiban

Mengapa sebagian orang merasakan kenikmatan dalam sholat?

Karena mereka tidak melihat sholat hanya sebagai kewajiban.

Mereka melihat sholat sebagai pertemuan.

Pertemuan dengan Allah.

Pertemuan dengan Rabb yang menciptakan mereka.

Pertemuan dengan Dzat yang mengetahui seluruh luka dan harapan mereka.

Bayangkan seseorang yang akan bertemu dengan orang yang sangat dicintainya.

Ia akan menunggu momen itu.

Ia akan merindukannya.

Ia akan mempersiapkan dirinya.

Begitulah para nabi dan orang-orang saleh memandang sholat.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Latin:

Wa ju'ilat qurratu 'ainī fish shalāh.

Artinya:

"Dijadikan penyejuk hatiku ada dalam sholat."

(HR. Ahmad dan An-Nasa'i)

Perhatikan.

Rasulullah tidak mengatakan bahwa penyejuk hati beliau ada pada kekayaan.

Bukan pada kekuasaan.

Bukan pada popularitas.

Tetapi pada sholat.

Karena sholat adalah tempat beliau berjumpa dengan Allah.


7.7 Menghadirkan Ihsan Sebelum dan Saat Sholat

Ihsan tidak muncul secara tiba-tiba.

Ia perlu dilatih.

Perlu dibiasakan.

Sebelum sholat, cobalah duduk sejenak.

Tenangkan diri.

Tarik nafas perlahan.

Bayangkan bahwa Allah sedang melihat Anda.

Bayangkan bahwa mungkin ini adalah sholat terakhir Anda.

Kemudian hadirkan dalam hati:

"Aku sedang menghadap Allah."

"Aku sedang berbicara kepada Allah."

"Aku sedang berdiri di hadapan Raja seluruh alam semesta."

Ketika membaca Al-Fatihah, sadari bahwa Allah mendengar.

Ketika ruku', sadari bahwa Allah melihat.

Ketika sujud, sadari bahwa Allah sangat dekat.

Semakin sering latihan ini dilakukan, semakin mudah hati menghadirkan Allah.

Dan semakin hadir Allah dalam hati, semakin mudah seseorang merasakan kekhusyukan.


7.8 Ketenangan yang Lahir dari Ihsan

Orang yang hidup dengan ihsan memiliki ketenangan yang berbeda.

Ia tidak terlalu sibuk mencari pengakuan manusia.

Karena ia lebih peduli kepada penilaian Allah.

Ia tidak terlalu kecewa ketika dicela.

Karena ia tahu Allah mengetahui niatnya.

Ia tidak terlalu sombong ketika dipuji.

Karena ia sadar semua berasal dari Allah.

Ia tidak mudah putus asa ketika gagal.

Karena ia yakin Allah sedang mengatur yang terbaik.

Inilah buah dari ihsan.

Bukan hanya khusyuk dalam sholat.

Tetapi juga tenang dalam kehidupan.

Karena seseorang yang selalu merasa bersama Allah tidak akan mudah merasa sendirian.


7.9 Penutup Bab 7: Hiduplah Seolah Allah Selalu Ada di Hadapanmu

Sesungguhnya ihsan bukan tentang melihat Allah dengan mata.

Tetapi melihat kehidupan dengan kesadaran akan kehadiran Allah.

Ketika kesadaran itu hidup, dunia tidak lagi menguasai hati.

Manusia tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Dan ibadah tidak lagi terasa berat.

Karena hati telah menemukan Rabb-nya.

Maka mulailah melatih diri untuk hidup dengan ihsan.

Bukan hanya saat berada di masjid.

Tetapi di rumah.

Di tempat kerja.

Di jalan.

Di mana pun Anda berada.

Karena ketika hati selalu sadar bahwa Allah melihatnya, sholat akan berubah dari sekadar kewajiban menjadi perjumpaan yang dirindukan.

Dan dari perjumpaan itulah lahir ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.


Muhasabah Bab 7

Renungkanlah malam ini:

  • Apakah saya lebih takut kepada penilaian manusia atau penilaian Allah?
  • Ketika sendirian, apakah saya tetap menjaga diri sebagaimana ketika dilihat orang lain?
  • Sudahkah saya merasakan bahwa Allah selalu melihat saya?
  • Ketika sholat, apakah saya benar-benar merasa sedang menghadap Allah?

Karena kualitas sholat seseorang sering kali tidak ditentukan oleh apa yang dilakukan tubuhnya.

Tetapi oleh seberapa hidup kesadaran ihsan di dalam hatinya.

(Bersambung ke Bab 8: Mengenal Penyakit Hati yang Merusak Khusyuk).