@ Bab 6 : Mulai Sholat Khusyu


 

BAB 6

SHOLAT KHUSYUK MELALUI KESADARAN TAUHID

6.1 Mengapa Kita Sangat Membutuhkan Sholat Khusyuk?

Coba renungkan sejenak.

Berapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk mencari kebahagiaan?

Berapa banyak tenaga yang telah kita keluarkan untuk mengejar ketenangan?

Berapa banyak usaha yang telah kita lakukan agar hidup terasa lebih baik?

Namun mengapa sering kali hati masih tetap kosong?

Mengapa setelah memperoleh apa yang diinginkan, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar?

Mengapa setelah satu masalah selesai, masalah lain kembali muncul?

Karena sesungguhnya manusia tidak hanya membutuhkan kenyamanan hidup.

Manusia membutuhkan ketenangan jiwa.

Dan ketenangan jiwa tidak dapat dibeli dengan uang.

Tidak dapat diwariskan.

Tidak dapat dipinjam dari orang lain.

Ia harus ditemukan dalam hubungan yang benar dengan Allah.

Di sinilah letak pentingnya sholat khusyuk.

Sholat bukan hanya ibadah yang diwajibkan lima kali sehari.

Sholat adalah kebutuhan hati.

Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, hati membutuhkan kedekatan dengan Allah.

Jika tubuh yang lapar akan terasa lemah, maka hati yang jauh dari Allah juga akan terasa lelah.

Sering kali kelelahan yang kita rasakan bukan karena terlalu banyak pekerjaan.

Tetapi karena terlalu sedikit mengingat Allah.

Karena itu Allah menjadikan sholat sebagai sarana untuk menghidupkan kembali hati yang mulai kering.


6.2 Apa Itu Khusyuk yang Sebenarnya?

Banyak orang mengira bahwa khusyuk berarti tidak memiliki pikiran apa pun ketika sholat.

Akibatnya mereka menjadi putus asa.

Begitu muncul gangguan pikiran, mereka langsung merasa gagal.

Padahal khusyuk bukan berarti pikiran tidak pernah terganggu.

Khusyuk adalah ketika hati tetap berusaha kembali kepada Allah setiap kali pikirannya melayang.

Para ulama menjelaskan bahwa khusyuk adalah keadaan hati yang tunduk, merendah, dan merasa diawasi oleh Allah.

Imam Ibnu Rajab رحمه الله menjelaskan bahwa khusyuk berasal dari hati yang dipenuhi pengagungan kepada Allah.

Ketika hati mengagungkan Allah, anggota tubuh akan ikut tenang.

Pandangan menjadi lebih terjaga.

Gerakan menjadi lebih tertib.

Ucapan menjadi lebih bermakna.

Karena itu khusyuk bukan sekadar teknik konsentrasi.

Khusyuk adalah buah dari hubungan hati dengan Allah.

Allah berfirman:

﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾

Latin:

Qad aflaha al-mu'minūn. Alladzīna hum fī shalātihim khāsyi'ūn.

Artinya:

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam sholatnya."

(QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Menarik untuk diperhatikan.

Allah tidak memulai dengan menyebut orang yang kaya.

Tidak menyebut orang yang terkenal.

Tidak menyebut orang yang kuat.

Allah menyebut orang yang khusyuk.

Seakan Allah ingin mengajarkan bahwa keberuntungan hidup yang sejati dimulai dari hati yang dekat kepada-Nya.


6.3 Kesadaran Tauhid: Kunci Utama Kekhusyukan

Mengapa sebagian orang begitu mudah tersentuh ketika membaca Al-Qur'an?

Mengapa sebagian orang menangis ketika berdoa?

Mengapa sebagian orang merasakan ketenangan yang luar biasa ketika sholat?

Jawabannya bukan karena mereka memiliki kemampuan khusus.

Bukan pula karena mereka manusia tanpa dosa.

Tetapi karena mereka memiliki kesadaran tauhid yang hidup.

Mereka sadar bahwa Allah ada.

Mereka sadar bahwa Allah melihat.

Mereka sadar bahwa Allah mendengar.

Mereka sadar bahwa Allah dekat.

Dan yang lebih penting, mereka sadar bahwa Allah adalah tujuan hidup mereka.

Inilah yang membuat hati mereka mudah hadir ketika sholat.

Bayangkan seseorang yang akan bertemu dengan orang yang sangat ia cintai.

Apakah ia akan datang dengan hati yang lalai?

Tentu tidak.

Perhatiannya akan tertuju kepada pertemuan itu.

Demikian pula sholat.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia merindukan perjumpaan dengan Allah.

Dan semakin besar kerinduannya, semakin mudah ia khusyuk.

Karena khusyuk pada dasarnya adalah cinta yang hadir dalam ibadah.


6.4 Menghadirkan Allah Sebelum Takbiratul Ihram

Banyak orang ingin khusyuk ketika sholat dimulai.

Padahal khusyuk sering kali dimulai sebelum sholat dimulai.

Masalahnya, kita sering langsung berdiri untuk sholat tanpa mempersiapkan hati.

Tubuh memang sudah berada di sajadah.

Tetapi pikiran masih berada di kantor.

Masih berada di pasar.

Masih berada pada masalah yang belum selesai.

Akibatnya sholat dimulai dalam keadaan hati yang belum siap.

Karena itu sebelum mengangkat tangan dan mengucapkan takbir, berilah waktu sejenak untuk menghadirkan kesadaran.

Ingatlah bahwa kita akan menghadap Allah.

Ingatlah bahwa mungkin ini adalah sholat terakhir dalam hidup kita.

Ingatlah bahwa Allah sedang melihat kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

Latin:

Shalli shalāta muwaddi'.

Artinya:

"Sholatlah seperti sholatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia)."

(HR. Ibnu Majah)

Bayangkan jika kita benar-benar yakin bahwa ini adalah sholat terakhir kita.

Apakah kita masih akan terburu-buru?

Apakah kita masih akan memikirkan urusan dunia?

Kesadaran seperti inilah yang membuka pintu kekhusyukan.


6.5 Memahami Makna "Allahu Akbar"

Kalimat pertama yang kita ucapkan dalam sholat adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ

Latin:

Allāhu Akbar.

Artinya:

"Allah Maha Besar."

Kalimat ini sangat singkat.

Tetapi maknanya sangat dalam.

Ketika mengucapkan "Allahu Akbar", kita sedang menyatakan bahwa Allah lebih besar daripada segala sesuatu.

Allah lebih besar daripada masalah kita.

Allah lebih besar daripada ketakutan kita.

Allah lebih besar daripada hutang kita.

Allah lebih besar daripada penyakit kita.

Allah lebih besar daripada semua urusan yang sedang memenuhi pikiran kita.

Jika kalimat ini benar-benar masuk ke dalam hati, maka sebagian besar kegelisahan akan mulai berkurang.

Karena sumber kegelisahan sering kali adalah membesarkan masalah dan mengecilkan Allah.

Sedangkan tauhid mengajarkan kebalikannya.

Membesarkan Allah dan mengecilkan masalah.

Bukan berarti mengabaikan masalah.

Tetapi melihat masalah dalam cahaya kebesaran Allah.


6.6 Al-Fatihah: Dialog antara Hamba dan Allah

Banyak orang membaca Al-Fatihah puluhan kali setiap hari.

Namun tidak semua menyadari keistimewaannya.

Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadis qudsi bahwa ketika seorang hamba membaca Al-Fatihah, Allah menjawab setiap ayat yang dibacanya.

Ketika hamba membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Latin:

Alḥamdu lillāhi rabbil 'ālamīn.

Allah berfirman:

"حَمِدَنِي عَبْدِي"

Latin:

Ḥamidanī 'abdī.

"Hamba-Ku telah memuji-Ku."

(HR. Muslim)

Perhatikan.

Saat membaca Al-Fatihah, kita sebenarnya sedang berdialog dengan Allah.

Namun sering kali kita membacanya seperti membaca teks biasa.

Padahal jika kita menyadari bahwa Allah sedang memperhatikan dan menjawab bacaan kita, tentu hati akan lebih mudah hadir.


6.7 Sujud: Titik Terdekat antara Hamba dan Rabb-Nya

Di antara seluruh gerakan sholat, sujud adalah momen yang paling istimewa.

Mengapa?

Karena saat itulah seorang hamba berada pada posisi paling rendah di hadapan Allah.

Dahi yang biasanya tegak kini menyentuh tanah.

Kesombongan runtuh.

Keakuan melemah.

Hanya ada seorang hamba yang mengakui kelemahannya di hadapan Rabb-nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Latin:

Aqrabu mā yakūnul 'abdu min rabbihī wa huwa sājidun fa aktsirud du'ā'.

Artinya:

"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa."

(HR. Muslim)

Betapa sering kita terburu-buru dalam sujud.

Padahal di situlah tempat terbaik untuk mencurahkan isi hati kepada Allah.

Mungkin ada luka yang tidak dapat dipahami manusia.

Mungkin ada kesedihan yang tidak mampu diceritakan kepada siapa pun.

Bawalah semuanya ke dalam sujud.

Karena Allah memahami apa yang tidak mampu dipahami oleh manusia.


6.8 Ketika Sholat Menjadi Tempat Pulang

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa lelah.

Lelah menghadapi masalah.

Lelah menghadapi manusia.

Lelah menghadapi diri sendiri.

Pada saat seperti itu, dunia tidak selalu mampu memberi jawaban.

Namun sholat selalu membuka pintu.

Karena sholat bukan sekadar kewajiban.

Sholat adalah tempat pulang.

Tempat hati menemukan ketenangan.

Tempat jiwa menemukan kekuatan.

Tempat seorang hamba kembali kepada Allah.

Semakin kuat kesadaran tauhid dalam hati, semakin besar kenikmatan yang dirasakan dalam sholat.

Dan semakin nikmat sholat seseorang, semakin tenang kehidupannya.


6.9 Penutup Bab 6: Khusyuk Adalah Perjalanan Seumur Hidup

Perlu dipahami bahwa khusyuk bukan sesuatu yang dicapai dalam satu malam.

Khusyuk adalah perjalanan.

Kadang hati hadir dengan kuat.

Kadang hati melemah.

Kadang sholat terasa sangat nikmat.

Kadang terasa berat.

Itulah manusia.

Yang terpenting adalah terus berusaha.

Terus memperbaiki hubungan dengan Allah.

Terus memperdalam tauhid.

Terus membersihkan hati.

Karena khusyuk bukan tujuan akhir.

Khusyuk adalah buah dari perjalanan mengenal Allah.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia mencintai Allah.

Semakin ia mencintai Allah, semakin ia merindukan sholat.

Dan semakin ia merindukan sholat, semakin dekat ia dengan ketenangan yang sejati.


Muhasabah Bab 6

Tanyakan kepada diri Anda malam ini:

  • Apakah saya benar-benar merasa sedang bertemu Allah ketika sholat?
  • Apa yang paling sering mengganggu kekhusyukan saya?
  • Sudahkah saya memahami makna bacaan yang saya ucapkan dalam sholat?
  • Apakah sujud saya sudah menjadi tempat saya mengadu kepada Allah?

Karena sesungguhnya sholat yang khusyuk bukanlah sholat yang sempurna.

Sholat yang khusyuk adalah sholat yang dilakukan oleh hati yang terus berusaha kembali kepada Allah.

Dan setiap langkah menuju Allah, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia.

TAMAT
"Sholat Khusyuk Melalui Kesadaran Tauhid: Dari Mengenal Allah Menuju Ketenangan Hati."