@ Bab 5 : Mulai Sholat Khusyuk


 

BAB 5

TAUHID, JALAN MENUJU KETENANGAN HIDUP

5.1 Mengapa Banyak Orang Sulit Merasakan Tenang?

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa semakin maju kehidupan manusia, semakin banyak pula orang yang merasa gelisah?

Teknologi semakin canggih.

Informasi semakin mudah diperoleh.

Fasilitas hidup semakin lengkap.

Namun mengapa ketenangan justru terasa semakin mahal?

Banyak orang memiliki rumah yang nyaman, tetapi sulit tidur.

Memiliki kendaraan yang bagus, tetapi pikirannya penuh kecemasan.

Memiliki pekerjaan yang mapan, tetapi hatinya tidak pernah merasa cukup.

Sebagian bahkan tampak tersenyum di hadapan orang lain, tetapi menangis ketika sendirian.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena masalah terbesar manusia bukanlah kekurangan fasilitas hidup.

Masalah terbesar manusia adalah kehilangan arah hati.

Hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah.

Ketika hati jauh dari Allah, ia akan mencari pengganti.

Ada yang menggantinya dengan harta.

Ada yang menggantinya dengan popularitas.

Ada yang menggantinya dengan jabatan.

Ada yang menggantinya dengan pujian manusia.

Namun semua itu tidak mampu mengisi ruang terdalam dalam hati.

Karena ruang itu memang diciptakan hanya untuk Allah.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

"Di dalam hati terdapat kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan mengenal Allah, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya."

Inilah mengapa tauhid bukan hanya pembahasan tentang akidah.

Tauhid adalah kebutuhan hidup.

Tauhid adalah kebutuhan hati.

Tauhid adalah jalan menuju ketenangan yang sesungguhnya.


5.2 Hati yang Bergantung kepada Dunia Akan Mudah Gelisah

Cobalah renungkan.

Mengapa kita sering merasa takut kehilangan?

Mengapa kita mudah cemas terhadap masa depan?

Mengapa kita mudah kecewa ketika harapan tidak terwujud?

Salah satu sebabnya adalah karena hati terlalu bergantung kepada sesuatu yang tidak tetap.

Padahal dunia memang diciptakan untuk berubah.

Hari ini seseorang sehat.

Besok bisa sakit.

Hari ini seseorang kaya.

Besok bisa kehilangan hartanya.

Hari ini seseorang dipuji.

Besok bisa dicela.

Jika hati menggantungkan kebahagiaan kepada sesuatu yang berubah, maka ketenangan juga akan ikut berubah.

Karena itu Allah mengingatkan manusia agar tidak menjadikan dunia sebagai sandaran utama.

Allah berfirman:

﴿ كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴾

Latin:

Kullu man 'alaihā fān. Wa yabqā wajhu rabbika dzul jalāli wal ikrām.

Artinya:

"Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan yang tetap kekal hanyalah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."

(QS. Ar-Rahman: 26-27)

Ayat ini mengajarkan sebuah pelajaran besar.

Segala sesuatu selain Allah bersifat sementara.

Karena itu orang yang menggantungkan hidupnya kepada dunia akan selalu hidup dalam ketakutan.

Takut kehilangan.

Takut gagal.

Takut miskin.

Takut tidak dihargai.

Sedangkan orang yang menggantungkan hatinya kepada Allah akan lebih tenang.

Karena sandarannya tidak pernah berubah.


5.3 Kisah Nabi Ibrahim: Ketika Tauhid Menjadi Kekuatan

Salah satu contoh paling indah tentang kekuatan tauhid adalah kisah Nabi Ibrahim عليه السلام.

Beliau hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala.

Beliau ditentang.

Beliau dimusuhi.

Bahkan beliau pernah dilempar ke dalam api yang sangat besar.

Bayangkan jika itu terjadi kepada kita.

Mungkin hati sudah dipenuhi ketakutan.

Mungkin pikiran sudah dipenuhi kepanikan.

Namun Nabi Ibrahim memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada api itu.

Yaitu tauhid.

Ketika beliau dilempar ke dalam api, beliau berkata:

حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Latin:

Hasbiyallāhu wa ni'mal wakīl.

Artinya:

"Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung."

(HR. Bukhari)

Apa yang terjadi kemudian?

Allah berfirman:

﴿ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ ﴾

Latin:

Qulnā yā nāru kūnī bardan wa salāman 'alā Ibrāhīm.

Artinya:

"Kami berfirman: Wahai api, jadilah dingin dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim."

(QS. Al-Anbiya': 69)

Perhatikan.

Yang menyelamatkan Nabi Ibrahim bukan kekuatan fisiknya.

Bukan jumlah pengikutnya.

Bukan hartanya.

Yang menyelamatkannya adalah Allah.

Dan keyakinan kepada Allah itulah yang membuat hatinya tetap tenang.

Kisah ini mengajarkan bahwa ketenangan sejati lahir ketika hati benar-benar yakin bahwa Allah menguasai segala sesuatu.


5.4 Tauhid Mengubah Cara Pandang terhadap Masalah

Masalah hidup tidak selalu bisa dihindari.

Setiap manusia pasti mengalaminya.

Orang miskin memiliki masalah.

Orang kaya juga memiliki masalah.

Orang yang belum menikah memiliki masalah.

Orang yang sudah menikah juga memiliki masalah.

Masalah bukan tanda bahwa Allah tidak mencintai kita.

Justru sering kali masalah adalah sarana pendidikan dari Allah.

Orang yang bertauhid memandang masalah dengan cara yang berbeda.

Ketika ujian datang, ia tidak langsung bertanya:

"Mengapa ini terjadi kepadaku?"

Tetapi ia bertanya:

"Apa hikmah yang Allah ingin ajarkan kepadaku?"

Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak langsung putus asa.

Ia percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik.

Karena ia yakin pada firman Allah:

﴿ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ﴾

Latin:

Wa 'asā an takrahū syai'an wa huwa khairul lakum.

Artinya:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu."

(QS. Al-Baqarah: 216)

Betapa banyak peristiwa yang dahulu kita anggap buruk ternyata menjadi jalan menuju kebaikan.

Betapa banyak kegagalan yang akhirnya menjadi pintu kesuksesan.

Betapa banyak kehilangan yang akhirnya membawa kita lebih dekat kepada Allah.

Inilah cara pandang tauhid.

Tauhid membuat seseorang melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.


5.5 Ketenangan Tidak Datang dari Keadaan yang Sempurna

Sebagian orang berkata:

"Aku akan tenang jika masalahku selesai."

"Aku akan bahagia jika penghasilanku bertambah."

"Aku akan damai jika semua keinginanku tercapai."

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Karena ketenangan bukan berasal dari keadaan yang sempurna.

Ketenangan berasal dari hati yang dekat kepada Allah.

Lihatlah para nabi.

Mereka menghadapi ujian yang sangat berat.

Namun mereka tetap tenang.

Lihatlah para ulama saleh.

Sebagian hidup sederhana.

Sebagian mengalami kesulitan.

Namun hati mereka damai.

Mengapa?

Karena sumber ketenangan mereka bukan keadaan.

Tetapi Allah.

Allah berfirman:

﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾

Latin:

Alā bidzikrillāhi tathma'innul qulūb.

Artinya:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini sangat jelas.

Allah tidak mengatakan bahwa hati menjadi tenang karena dunia.

Allah langsung menunjukkan sumber ketenangan yang sebenarnya.

Yaitu mengingat Allah.

Karena hati berasal dari Allah.

Maka hati hanya akan tenang ketika kembali kepada Allah.


5.6 Tawakal: Buah dari Tauhid

Salah satu buah terindah dari tauhid adalah tawakal.

Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Tawakal adalah melakukan usaha terbaik kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Banyak orang mampu berusaha.

Tetapi tidak semua mampu bertawakal.

Mengapa?

Karena tawakal membutuhkan keyakinan.

Keyakinan bahwa Allah lebih mengetahui daripada kita.

Keyakinan bahwa Allah lebih mencintai kita daripada diri kita sendiri.

Keyakinan bahwa keputusan Allah selalu mengandung hikmah.

Allah berfirman:

﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ﴾

Latin:

Wa may yatawakkal 'alallāhi fahuwa ḥasbuh.

Artinya:

"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."

(QS. At-Talaq: 3)

Betapa menenangkan ayat ini.

Allah tidak menjanjikan bahwa hidup akan selalu mudah.

Tetapi Allah menjanjikan bahwa Dia akan mencukupi hamba yang bertawakal kepada-Nya.

Dan kecukupan dari Allah jauh lebih berharga daripada apa pun yang dimiliki dunia.


5.7 Tauhid dan Sholat Khusyuk

Pada titik ini kita mulai memahami hubungan yang sangat erat antara tauhid dan sholat khusyuk.

Mengapa seseorang sulit khusyuk?

Karena hatinya masih dipenuhi ketergantungan kepada selain Allah.

Mengapa seseorang mudah khusyuk?

Karena hatinya telah menemukan Allah sebagai pusat kehidupannya.

Ketika seseorang mengucapkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ

"Allāhu Akbar"

Ia bukan sekadar mengucapkan kalimat.

Ia sedang mengingatkan dirinya:

"Allah lebih besar daripada masalahku."

"Allah lebih besar daripada ketakutanku."

"Allah lebih besar daripada semua urusan dunia."

Kesadaran inilah yang melahirkan kekhusyukan.

Karena hati yang bertauhid akan lebih mudah fokus kepada Allah.


5.8 Penutup Bab 5: Jalan Pulang Menuju Ketenangan

Pada akhirnya, seluruh manusia sedang mencari satu hal yang sama.

Ketenangan.

Ada yang mencarinya melalui harta.

Ada yang mencarinya melalui jabatan.

Ada yang mencarinya melalui hubungan dengan manusia.

Namun semua pencarian itu akan berakhir pada satu kesimpulan:

Tidak ada ketenangan yang lebih besar daripada ketenangan bersama Allah.

Tauhid mengajarkan kita untuk meletakkan Allah di pusat kehidupan.

Ketika Allah berada di pusat kehidupan, segala sesuatu akan berada pada tempatnya.

Kita tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.

Kita tetap memiliki harta, tetapi tidak diperbudak harta.

Kita tetap bergaul dengan manusia, tetapi tidak menggantungkan kebahagiaan kepada manusia.

Karena hati telah menemukan sandaran yang sejati.

Dan ketika hati telah menemukan Allah, ia tidak lagi tersesat dalam pencarian yang tidak berujung.


Muhasabah Bab 5

Renungkanlah dengan jujur:

  • Apa yang paling sering membuat saya gelisah?
  • Kepada siapa hati saya paling bergantung?
  • Jika semua yang saya miliki hilang hari ini, apakah saya masih memiliki Allah?
  • Apakah saya mencari ketenangan melalui dunia atau melalui kedekatan kepada Allah?

Karena sesungguhnya ketenangan bukanlah ketika kita memiliki segalanya.

Ketenangan adalah ketika kita menyadari bahwa meskipun tidak memiliki segalanya, kita masih memiliki Allah.

(Bersambung ke Bab 6: Sholat Khusyuk Melalui Kesadaran Tauhid).