BAB 4
MENYADARI NAFAS, MENGINGAT ALLAH
4.1 Nikmat yang Paling Dekat, Tetapi Paling Sering Dilupakan
Cobalah berhenti sejenak.
Letakkan apa pun yang sedang Anda lakukan.
Lalu tarik nafas perlahan.
Rasakan udara masuk ke dalam tubuh.
Kemudian hembuskan perlahan.
Sederhana, bukan?
Kita melakukannya setiap saat.
Setiap menit.
Setiap detik.
Bahkan saat tidur sekalipun.
Namun pernahkah kita benar-benar memikirkannya?
Pernahkah kita bersyukur karena masih bisa bernafas?
Anehnya, manusia sering sibuk menghitung apa yang belum dimilikinya, tetapi lupa mensyukuri apa yang paling mendasar dalam hidupnya.
Kita bersyukur ketika mendapatkan keuntungan.
Kita bersyukur ketika usaha berkembang.
Kita bersyukur ketika menerima kabar baik.
Tetapi jarang sekali kita bersyukur karena masih bisa menghirup udara dengan normal.
Padahal jika Allah menahan satu hembusan nafas saja, seluruh urusan dunia yang kita pikirkan akan kehilangan maknanya.
Rumah yang megah tidak lagi berarti.
Tabungan yang besar tidak lagi berarti.
Jabatan yang tinggi tidak lagi berarti.
Karena kehidupan manusia sesungguhnya bergantung pada sesuatu yang sangat sederhana.
Yaitu nafas.
Allah berfirman:
﴿ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴾
Latin:
Wa fī anfusikum afalā tubshirūn.
Artinya:
"Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
(QS. Adz-Dzariyat: 21)
Ayat ini mengajak kita melihat ke dalam diri sendiri.
Sering kali manusia sibuk mencari tanda-tanda kebesaran Allah di luar dirinya.
Padahal salah satu tanda terbesar ada di dalam dirinya sendiri.
Dalam detak jantung.
Dalam aliran darah.
Dalam sistem tubuh yang bekerja tanpa pernah kita perintah.
Dan dalam setiap nafas yang Allah izinkan untuk terus berlangsung.
Jika kita benar-benar merenungkannya, setiap tarikan nafas adalah bukti bahwa Allah masih memberi kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kesempatan untuk bertaubat.
Kesempatan untuk berbuat baik.
Kesempatan untuk kembali kepada-Nya.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar kehidupan, sampai lupa mensyukuri sumber kehidupan itu sendiri.
4.2 Nafas: Pesan Tauhid yang Terjadi Setiap Saat
Banyak orang mencari bukti keberadaan Allah melalui perdebatan.
Sebagian mencarinya melalui filsafat.
Sebagian lagi mencarinya melalui berbagai teori.
Padahal setiap hari Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui nafas yang kita hirup.
Coba renungkan.
Siapa yang membuat paru-paru bekerja tanpa henti?
Siapa yang mengatur oksigen masuk dan keluar dari tubuh?
Siapa yang membuat jantung berdetak siang dan malam tanpa kita sadari?
Apakah semua itu terjadi karena kemampuan manusia?
Tentu tidak.
Semua terjadi karena izin Allah.
Karena itu setiap nafas sesungguhnya mengajarkan tauhid.
Bahwa manusia tidak sepenuhnya mengendalikan hidupnya.
Bahwa ada kekuasaan yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Bahwa ada Allah yang terus memelihara kehidupannya setiap detik.
Sering kali manusia merasa dirinya kuat.
Merasa dirinya mampu.
Merasa dirinya hebat.
Namun satu gangguan kecil pada sistem pernafasan saja dapat membuat seluruh kesombongan itu runtuh.
Seseorang yang biasanya berjalan dengan gagah bisa mendadak tidak berdaya ketika kesulitan bernafas.
Saat itulah manusia menyadari betapa lemahnya dirinya.
Dan betapa besar kekuasaan Allah.
Karena itu para ulama mengajarkan bahwa mengenal kelemahan diri adalah salah satu jalan untuk mengenal kebesaran Allah.
Semakin seseorang menyadari bahwa dirinya lemah, semakin mudah ia bersandar kepada Allah.
Dan semakin ia bersandar kepada Allah, semakin tenang hatinya.
4.3 Nafas dan Kesadaran Kehadiran Allah
Mengapa banyak orang sulit khusyuk dalam sholat?
Salah satu sebabnya adalah karena mereka jarang menghadirkan Allah di luar sholat.
Padahal hati yang terbiasa mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah mengingat Allah ketika berdiri dalam sholat.
Di sinilah pentingnya kesadaran terhadap nafas.
Bukan karena nafas memiliki kekuatan khusus.
Bukan pula karena ada ritual tertentu.
Tetapi karena nafas dapat menjadi sarana untuk mengingat Allah.
Ketika seseorang menarik nafas dan menyadari bahwa hidupnya bergantung kepada Allah, ia sedang melatih kesadaran tauhid.
Ketika seseorang menghembuskan nafas sambil bersyukur kepada Allah, ia sedang melatih kehadiran hati.
Sedikit demi sedikit, hati yang sebelumnya lalai mulai terbangun.
Pikiran yang sebelumnya sibuk mulai tenang.
Jiwa yang sebelumnya gelisah mulai menemukan arah.
Inilah yang disebut para ulama sebagai muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan menyertai kita dengan ilmu-Nya.
Allah berfirman:
﴿ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ﴾
Latin:
Wa huwa ma'akum ayna mā kuntum.
Artinya:
"Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada."
(QS. Al-Hadid: 4)
Tentu yang dimaksud bukan Allah menyatu dengan makhluk.
Melainkan Allah mengetahui, melihat, dan mengawasi seluruh keadaan hamba-Nya.
Kesadaran inilah yang membuat hati hidup.
Karena seseorang tidak lagi merasa sendirian.
Ia tahu bahwa Allah selalu mengetahui keadaannya.
4.4 Belajar Hadir Melalui Nafas
Mari kita jujur.
Sebagian besar kegelisahan manusia berasal dari dua hal.
Menyesali masa lalu.
Mengkhawatirkan masa depan.
Akibatnya, banyak orang kehilangan kemampuan untuk hadir pada saat ini.
Tubuhnya berada di rumah.
Pikirannya berada di masa lalu.
Tubuhnya sedang bekerja.
Pikirannya berada pada ketakutan tentang masa depan.
Akhirnya hati menjadi lelah.
Padahal kehidupan hanya terjadi pada saat ini.
Dan Allah selalu hadir pada saat ini.
Ketika seseorang menyadari nafasnya, ia belajar kembali untuk hadir.
Ia belajar menghentikan sejenak kebisingan pikirannya.
Ia belajar menyadari bahwa Allah sedang memberinya kehidupan saat ini.
Bukan kemarin.
Bukan besok.
Tetapi sekarang.
Kesadaran sederhana ini sering kali membawa ketenangan yang luar biasa.
Karena banyak beban hidup sebenarnya berasal dari pikiran yang terus berkelana.
Sedangkan hati yang kembali kepada Allah akan menemukan kedamaian dalam momen saat ini.
4.5 Rasulullah dan Kesadaran kepada Allah
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mengenal Allah.
Karena itu beliau juga manusia yang paling tenang hatinya.
Bukan karena hidup beliau tanpa masalah.
Justru sebaliknya.
Beliau menghadapi hinaan.
Menghadapi penolakan.
Menghadapi pengkhianatan.
Menghadapi peperangan.
Menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Namun semua itu tidak membuat beliau kehilangan ketenangan batin.
Mengapa?
Karena hati beliau selalu bersama Allah.
Beliau mengajarkan sebuah doa yang sangat indah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
Latin:
Yā Hayyu Yā Qayyūm, biraḥmatika astaghīts.
Artinya:
"Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan."
(HR. Tirmidzi)
Perhatikan.
Rasulullah tidak mengajarkan kita untuk bergantung kepada kemampuan diri semata.
Beliau mengajarkan kita untuk bergantung kepada Allah.
Karena ketenangan lahir bukan ketika semua masalah selesai.
Tetapi ketika hati mengetahui kepada siapa ia harus bersandar.
4.6 Nafas sebagai Pengingat Kematian
Ada satu pelajaran besar yang tersimpan dalam setiap nafas.
Bahwa suatu hari nafas itu akan berhenti.
Setiap tarikan nafas mendekatkan kita kepada akhir perjalanan hidup.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Tetapi untuk menyadarkan.
Karena banyak manusia hidup seolah-olah akan tinggal di dunia selamanya.
Mereka menunda taubat.
Menunda ibadah.
Menunda memperbaiki diri.
Padahal tidak ada seorang pun yang tahu berapa banyak nafas yang masih tersisa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Latin:
Aktsirū dzikra hādzimil laddzāt.
Artinya:
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian)."
(HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat hidup menjadi suram.
Justru sebaliknya.
Ia membuat kita lebih menghargai kehidupan.
Lebih menghargai waktu.
Lebih menghargai kesempatan untuk mendekat kepada Allah.
Karena kita tidak tahu kapan kesempatan itu berakhir.
4.7 Menyiapkan Hati Sebelum Sholat
Salah satu manfaat besar dari kesadaran terhadap nafas adalah membantu menyiapkan hati sebelum sholat.
Sering kali kita langsung berdiri untuk sholat tanpa mempersiapkan batin.
Akibatnya pikiran masih sibuk.
Hati masih berlari ke sana kemari.
Padahal sebelum mengucapkan takbir, hati perlu diajak kembali kepada Allah.
Luangkan beberapa saat.
Tarik nafas perlahan.
Sadari bahwa hidup berasal dari Allah.
Sadarilah bahwa sebentar lagi kita akan berdiri di hadapan Allah.
Bayangkan bahwa mungkin ini adalah sholat terakhir dalam hidup kita.
Kesadaran seperti ini akan membantu menghadirkan kekhusyukan.
Karena khusyuk tidak muncul secara tiba-tiba.
Khusyuk tumbuh dari hati yang dipersiapkan.
4.8 Penutup Bab 4: Nafas adalah Undangan untuk Kembali
Jika ada nikmat yang paling dekat dengan kita, maka itulah nafas.
Jika ada bukti kasih sayang Allah yang terus kita rasakan setiap saat, maka itulah nafas.
Jika ada pengingat bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada kita, maka itulah nafas.
Karena itu jangan biarkan setiap nafas berlalu tanpa makna.
Jadikan ia sebagai pengingat untuk kembali kepada Allah.
Jadikan ia sebagai pengingat untuk bersyukur.
Jadikan ia sebagai pengingat bahwa kehidupan ini sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya.
Dan ketika kesadaran terhadap Allah mulai hadir dalam setiap nafas, hati akan lebih mudah menghadirkan Allah dalam setiap sholat.
Karena sholat khusyuk tidak lahir secara mendadak.
Ia lahir dari hati yang terbiasa hidup bersama Allah.
Muhasabah Bab 4
Malam ini, sebelum tidur, cobalah renungkan:
- Berapa banyak nikmat Allah yang saya nikmati hari ini tanpa saya syukuri?
- Apakah saya pernah benar-benar bersyukur karena masih bisa bernafas?
- Ketika menarik nafas, apakah saya menyadari bahwa hidup saya sepenuhnya bergantung kepada Allah?
- Jika malam ini adalah malam terakhir dalam hidup saya, apakah saya siap menghadap Allah?
Sebab setiap nafas yang masih diberikan kepada kita sesungguhnya adalah pesan yang sangat lembut dari Allah:
"Aku masih memberimu kesempatan untuk kembali kepada-Ku."
(Bersambung ke Bab 5: Tauhid, Jalan Menuju Ketenangan Hidup).