BAB 3
ALLAH DEKAT, MENGAPA KITA MERASA JAUH?
3.1 Sebuah Pertanyaan yang Menyentuh Hati
Pernahkah Anda merasa sendirian di tengah keramaian?
Pernahkah Anda merasa tidak ada yang memahami apa yang sedang Anda rasakan?
Pernahkah Anda menyimpan kesedihan yang tidak mampu diceritakan kepada siapa pun?
Atau mungkin pernah ada masa dalam hidup ketika Anda berdoa, tetapi merasa seolah-olah doa itu tidak didengar?
Pada saat-saat seperti itu, banyak orang mulai merasa jauh dari Allah.
Mereka bertanya dalam hati:
"Ya Allah, di mana Engkau ketika aku sedang kesulitan?"
"Mengapa hidup terasa begitu berat?"
"Mengapa doaku belum dikabulkan?"
"Mengapa aku merasa sendirian?"
Padahal jika direnungkan lebih dalam, bukan Allah yang menjauh dari kita.
Kitalah yang sering menjauh dari Allah.
Karena sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Allah tidak pernah tidur.
Allah tidak pernah lalai.
Allah tidak pernah kehilangan perhatian terhadap satu pun makhluk-Nya.
Masalahnya sering kali bukan pada jarak antara Allah dan manusia.
Masalahnya ada pada tebalnya hijab yang menutupi hati manusia.
Hijab itu berupa kesibukan.
Hijab itu berupa dosa.
Hijab itu berupa kelalaian.
Hijab itu berupa cinta dunia yang berlebihan.
Akibatnya hati kehilangan kepekaan untuk merasakan kehadiran Allah.
Padahal Allah sangat dekat.
Lebih dekat daripada yang sering kita bayangkan.
3.2 Allah Lebih Dekat dari yang Kita Kira
Ketika berbicara tentang kedekatan Allah, Al-Qur'an memberikan penjelasan yang sangat menakjubkan.
Allah berfirman:
﴿ وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴾
Latin:
Wa laqad khalaqnal insāna wa na'lamu mā tuwaswisu bihī nafsuh, wa naḥnu aqrabu ilaihi min hablil warīd.
Artinya:
"Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
(QS. Qaf: 16)
Perhatikan ayat ini.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia dekat seperti gunung yang terlihat dari kejauhan.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia dekat seperti seseorang yang berada di samping kita.
Allah menggunakan gambaran yang sangat dekat, yaitu urat leher.
Urat leher berada di dalam tubuh kita.
Sangat dekat.
Tidak pernah terpisah.
Dengan bahasa yang mudah dipahami, Allah ingin menunjukkan bahwa tidak ada satu detik pun kehidupan kita yang berada di luar pengetahuan-Nya.
Ketika kita menangis diam-diam, Allah tahu.
Ketika kita kecewa tetapi berusaha tersenyum, Allah tahu.
Ketika kita memendam luka yang tidak diketahui orang lain, Allah tahu.
Ketika kita berdoa dalam hati tanpa suara, Allah tahu.
Bahkan sebelum kita mengucapkannya.
Betapa banyak manusia yang merasa tidak dipahami oleh sesama manusia.
Namun Allah memahami semuanya.
Tidak ada satu pun rahasia hati yang tersembunyi dari-Nya.
Jika kita benar-benar menyadari hal ini, mungkin kita tidak akan merasa sesepi yang selama ini kita rasakan.
Karena sesungguhnya kita tidak pernah sendirian.
3.3 Mengapa Kita Sulit Merasakan Kedekatan Allah?
Jika Allah begitu dekat, mengapa banyak orang tetap merasa jauh?
Jawabannya sederhana tetapi mendalam.
Karena kedekatan Allah bukan masalah jarak.
Kedekatan Allah adalah masalah kesadaran.
Bayangkan seseorang yang sedang memegang telepon genggam di tangannya.
Namun ia sibuk mencarinya ke mana-mana.
Orang lain melihat bahwa benda itu sebenarnya sangat dekat.
Tetapi karena pikirannya tidak sadar, ia merasa benda itu jauh.
Demikian pula hubungan manusia dengan Allah.
Allah dekat.
Sangat dekat.
Tetapi hati kita sering sibuk dengan hal lain.
Sibuk memikirkan dunia.
Sibuk memikirkan masa depan.
Sibuk memikirkan penilaian manusia.
Sibuk memikirkan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi.
Akibatnya kesadaran terhadap Allah menjadi lemah.
Padahal Allah selalu ada.
Seorang ulama besar, Imam Ibn Athaillah As-Sakandari رحمه الله berkata:
"Janganlah keterlambatan terkabulnya doa membuatmu putus asa. Sebab Allah telah menjamin pengabulan sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai pilihanmu."
Betapa sering kita mengukur kedekatan Allah hanya dari terkabul atau tidaknya keinginan kita.
Padahal bisa jadi Allah sedang menunjukkan kasih sayang-Nya dengan cara yang berbeda.
Anak kecil sering menangis ketika keinginannya tidak dipenuhi.
Tetapi orang tua yang bijak mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya.
Demikian pula Allah.
Kasih sayang Allah jauh melampaui pemahaman manusia.
3.4 Dosa dan Kelalaian Menjadi Penghalang
Salah satu alasan mengapa hati sulit merasakan Allah adalah karena dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat.
Dosa bukan hanya pelanggaran terhadap aturan Allah.
Dosa juga meninggalkan bekas pada hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
Latin:
Innal mu'mina idzā adznaba dzanban nukitat fī qalbihi nuktatun saudā'.
Artinya:
"Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya."
(HR. Tirmidzi)
Bayangkan sebuah cermin yang terus terkena debu.
Pada awalnya masih bisa memantulkan cahaya.
Namun jika tidak dibersihkan, lama-kelamaan menjadi kusam.
Begitulah hati manusia.
Setiap dosa yang tidak disertai taubat membuat hati semakin sulit menangkap cahaya petunjuk.
Bukan karena Allah menjauh.
Tetapi karena hati menjadi tertutup.
Inilah sebabnya mengapa para ulama selalu menekankan pentingnya istighfar.
Bukan hanya ketika melakukan dosa besar.
Tetapi setiap hari.
Karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan.
3.5 Allah Selalu Membuka Pintu Kembali
Kabar baiknya, tidak ada hati yang terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.
Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan Allah jika disertai taubat yang tulus.
Allah berfirman:
﴿ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ﴾
Latin:
Qul yā 'ibādiyalladzīna asrafū 'alā anfusihim lā taqnathū min raḥmatillāh, innallāha yaghfirudz dzunūba jamī'ā.
Artinya:
"Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
(QS. Az-Zumar: 53)
Perhatikan bagaimana Allah memanggil mereka.
Bukan "wahai pendosa".
Bukan "wahai orang yang salah".
Tetapi "wahai hamba-hamba-Ku".
Bahkan ketika mereka penuh dosa, Allah masih menyebut mereka sebagai hamba-Nya.
Betapa luas kasih sayang Allah.
Betapa besar rahmat-Nya.
Karena itu jangan pernah merasa terlambat untuk kembali.
Jangan pernah berpikir bahwa Allah tidak lagi menerima kita.
Selama nafas masih ada, pintu taubat masih terbuka.
3.6 Sholat Adalah Sarana Merasakan Kedekatan Allah
Salah satu tujuan terbesar sholat adalah menghadirkan kesadaran bahwa Allah dekat.
Ketika seseorang mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Latin:
Allāhu Akbar.
Ia sedang meninggalkan dunia sejenak.
Ia sedang memasuki ruang perjumpaan dengan Allah.
Ketika membaca Al-Fatihah, ia sedang berbicara dengan Allah.
Ketika ruku', ia sedang mengagungkan Allah.
Ketika sujud, ia sedang berada pada posisi paling dekat dengan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
Latin:
Aqrabu mā yakūnul 'abdu min rabbihī wa huwa sājid.
Artinya:
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud."
(HR. Muslim)
Betapa sering kita terburu-buru bangkit dari sujud.
Padahal di situlah momen kedekatan yang sangat istimewa.
Mungkin karena kita belum benar-benar menyadari siapa yang sedang kita hadapi.
3.7 Ketika Allah Menjadi Tempat Pulang
Dalam hidup ini, tidak semua orang akan memahami kita.
Tidak semua harapan akan terwujud.
Tidak semua doa akan dikabulkan sesuai keinginan kita.
Tidak semua perjalanan akan berjalan mudah.
Namun ada satu hal yang selalu ada.
Allah.
Ketika manusia meninggalkan kita, Allah tetap ada.
Ketika dunia mengecewakan kita, Allah tetap ada.
Ketika semua pintu terasa tertutup, Allah tetap ada.
Karena itu orang yang mengenal Allah tidak akan mudah putus asa.
Ia boleh menangis.
Ia boleh sedih.
Ia boleh lelah.
Tetapi ia tidak kehilangan harapan.
Karena ia tahu kepada siapa harus kembali.
3.8 Penutup Bab 3: Allah Tidak Pernah Jauh
Sesungguhnya yang paling kita butuhkan dalam hidup bukanlah dunia yang sempurna.
Yang paling kita butuhkan adalah hati yang dekat dengan Allah.
Karena dunia yang sempurna tidak pernah ada.
Tetapi ketenangan bersama Allah selalu ada.
Maka jika hari ini Anda merasa jauh dari Allah, jangan buru-buru menyalahkan keadaan.
Jangan langsung menyalahkan takdir.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
"Sudah berapa lama aku tidak benar-benar berbicara dengan Allah?"
"Sudah berapa lama aku tidak menangis di hadapan-Nya?"
"Sudah berapa lama aku tidak membuka hati untuk-Nya?"
Karena sesungguhnya Allah tidak pernah pergi.
Allah tidak pernah menjauh.
Allah tidak pernah menutup pintu-Nya.
Kitalah yang sering terlalu sibuk untuk menyadari kehadiran-Nya.
Dan ketika hati mulai kembali kepada Allah, kita akan menemukan satu kenyataan yang menenangkan:
Allah ternyata lebih dekat daripada yang selama ini kita kira.
Muhasabah Bab 3
Malam ini, sebelum tidur, renungkanlah:
- Ketika sedih, kepada siapa saya pertama kali mengadu?
- Apakah saya lebih percaya kepada pertolongan manusia atau pertolongan Allah?
- Kapan terakhir kali saya berdoa dengan hati yang benar-benar hadir?
- Jika Allah begitu dekat, mengapa saya masih merasa sendirian?
Sebab sering kali yang perlu diperbaiki bukan jarak antara kita dan Allah.
Tetapi kesadaran kita terhadap Allah.
(Bersambung ke Bab 4: Menyadari Nafas, Mengingat Allah).