BAB 2
TAUHID SEBAGAI FONDASI SHOLAT KHUSYUK
2.1 Kita Tahu Allah Ada, Tetapi Apakah Kita Benar-Benar Mengenal-Nya?
Pernahkah Anda memperhatikan sesuatu yang menarik dalam kehidupan?
Banyak orang mengaku beriman kepada Allah.
Banyak orang hafal nama-nama Allah.
Banyak orang mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, sering kali mereka hidup seolah-olah Allah jauh dari mereka.
Ketika rezeki terasa sempit, hati langsung panik.
Ketika usaha menurun, hati langsung gelisah.
Ketika manusia mengecewakan, hidup terasa runtuh.
Ketika doa belum terkabul, keyakinan mulai goyah.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Karena ada perbedaan besar antara mengetahui Allah dan mengenal Allah.
Mengetahui Allah adalah urusan pikiran.
Mengenal Allah adalah urusan hati.
Seseorang bisa mengetahui bahwa madu itu manis tanpa pernah mencicipinya.
Tetapi orang yang telah mencicipinya akan memiliki pengalaman yang berbeda.
Demikian pula dengan Allah.
Banyak orang mengetahui tentang Allah.
Namun belum banyak yang benar-benar hidup dengan kesadaran akan kehadiran-Nya.
Padahal sholat khusyuk lahir dari hati yang mengenal Allah.
Bagaimana mungkin seseorang menikmati perjumpaan dengan Allah jika ia belum mengenal siapa yang sedang ditemuinya?
Bagaimana mungkin seseorang merindukan sholat jika ia belum memahami keagungan Zat yang mengundangnya?
Karena itu, perjalanan menuju khusyuk harus dimulai dari tauhid.
Bukan sekadar tauhid yang dihafal.
Tetapi tauhid yang dihayati.
Tauhid yang hidup dalam pikiran, hati, dan perilaku.
Allah berfirman:
﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ ﴾
Latin:
Fa'lam annahū lā ilāha illallāh.
Artinya:
"Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah."
(QS. Muhammad: 19)
Perhatikan ayat ini.
Allah memulai dengan kata "ketahuilah".
Artinya, mengenal Allah adalah fondasi sebelum melangkah lebih jauh.
Sebab seseorang tidak akan mencintai apa yang tidak dikenalnya.
Dan tidak akan merindukan apa yang tidak dicintainya.
Renungkanlah.
Selama ini, apakah Allah hanya ada dalam pengetahuan kita, atau benar-benar hidup dalam kesadaran kita?
2.2 Apa Itu Tauhid yang Sebenarnya?
Ketika mendengar kata tauhid, sebagian orang langsung membayangkan pembahasan yang berat.
Seolah-olah tauhid hanya milik para ulama dan akademisi.
Padahal hakikat tauhid sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tauhid adalah meyakini bahwa hanya Allah yang menjadi sumber segala sesuatu.
Hanya Allah tempat bergantung.
Hanya Allah tempat berharap.
Hanya Allah tempat kembali.
Tauhid bukan sekadar ucapan:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Latin:
Lā ilāha illallāh.
Artinya:
"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah."
Tauhid adalah menjadikan kalimat itu hidup dalam hati.
Ketika seseorang menghadapi masalah, ia ingat Allah.
Ketika seseorang mendapat nikmat, ia ingat Allah.
Ketika seseorang kehilangan sesuatu, ia tetap ingat Allah.
Karena pusat hidupnya adalah Allah.
Inilah yang dilakukan para nabi.
Mereka tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengenal Allah.
Mereka mengajarkan manusia untuk menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan.
Ketika Nabi Nuh ditolak kaumnya, beliau tetap bersama Allah.
Ketika Nabi Ibrahim dibakar, beliau tetap bersama Allah.
Ketika Nabi Musa dikejar Fir'aun, beliau tetap bersama Allah.
Ketika Rasulullah ﷺ dihina, disakiti, dan diusir, beliau tetap bersama Allah.
Karena tauhid bukan teori.
Tauhid adalah cara hidup.
Dan ketika tauhid hidup dalam hati, lahirlah ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh keadaan.
2.3 Mengapa Hati Sulit Khusyuk?
Banyak orang bertanya:
"Mengapa saya sulit khusyuk?"
"Mengapa pikiran saya ke mana-mana saat sholat?"
"Mengapa hati saya sulit fokus kepada Allah?"
Jawabannya mungkin lebih sederhana daripada yang kita bayangkan.
Karena hati terlalu penuh dengan selain Allah.
Bayangkan sebuah gelas yang sudah penuh.
Apa yang terjadi jika kita menambahkan air lagi?
Air itu akan tumpah.
Demikian pula hati.
Jika hati penuh dengan kekhawatiran dunia.
Penuh dengan ambisi yang berlebihan.
Penuh dengan ketakutan terhadap manusia.
Penuh dengan kecemasan terhadap masa depan.
Maka ruang untuk menghadirkan Allah menjadi sempit.
Padahal Allah berfirman:
﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ﴾
Latin:
Allāhu nūrus samāwāti wal ardh.
Artinya:
"Allah adalah cahaya langit dan bumi."
(QS. An-Nur: 35)
Cahaya Allah selalu ada.
Namun hati yang penuh dengan berbagai kotoran sulit menerima cahaya itu.
Karena itu para ulama tasawuf sering menekankan pentingnya membersihkan hati.
Bukan berarti meninggalkan dunia.
Bukan berarti membenci harta.
Tetapi tidak menjadikan dunia sebagai pusat kehidupan.
Dunia berada di tangan.
Bukan di hati.
Karena hati hanya cukup untuk Allah.
Renungkanlah.
Apa yang paling banyak memenuhi pikiran kita setiap hari?
Apakah Allah mendapatkan ruang terbesar di dalam hati kita?
2.4 Ketika Allah Menjadi Prioritas Utama
Ada satu ciri yang selalu dimiliki oleh orang-orang yang dekat kepada Allah.
Mereka menempatkan Allah di atas segala sesuatu.
Bukan berarti mereka tidak bekerja.
Bukan berarti mereka tidak berbisnis.
Bukan berarti mereka tidak memiliki cita-cita.
Mereka tetap menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya.
Namun ada satu perbedaan besar.
Mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Dunia hanyalah sarana.
Sedangkan tujuan akhirnya adalah Allah.
Inilah makna firman Allah:
﴿ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾
Latin:
Qul inna shalātī wa nusukī wa mahyāya wa mamātī lillāhi rabbil 'ālamīn.
Artinya:
"Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Al-An'am: 162)
Perhatikan betapa luasnya ayat ini.
Allah tidak hanya berbicara tentang sholat.
Allah berbicara tentang seluruh kehidupan.
Artinya tauhid tidak berhenti di masjid.
Tauhid harus hadir di rumah.
Hadir di tempat kerja.
Hadir dalam bisnis.
Hadir dalam keluarga.
Hadir dalam setiap keputusan hidup.
Ketika seseorang hidup seperti ini, sholat tidak lagi terasa asing.
Karena Allah sudah hadir dalam kehidupannya sebelum ia berdiri untuk sholat.
2.5 Mengapa Tauhid Melahirkan Ketenangan?
Salah satu penyebab terbesar kegelisahan manusia adalah karena terlalu banyak bergantung kepada sesuatu yang tidak pasti.
Kita bergantung kepada pekerjaan.
Padahal pekerjaan bisa hilang.
Kita bergantung kepada manusia.
Padahal manusia bisa berubah.
Kita bergantung kepada harta.
Padahal harta bisa berkurang.
Kita bergantung kepada kesehatan.
Padahal kesehatan bisa menurun.
Lalu ketika semua itu berubah, hati ikut hancur.
Tauhid mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Tauhid mengajarkan bahwa sandaran utama hanyalah Allah.
Dan Allah tidak pernah berubah.
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Allah tidak pernah kehilangan kekuasaan-Nya.
Allah tidak pernah tertidur.
Allah tidak pernah lalai.
Allah berfirman:
﴿ وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ ﴾
Latin:
Wa tawakkal 'alal hayyilladzī lā yamūt.
Artinya:
"Bertawakallah kepada Yang Maha Hidup yang tidak akan mati."
(QS. Al-Furqan: 58)
Inilah sumber ketenangan yang sesungguhnya.
Ketika hati bersandar kepada Allah, hidup tidak lagi bergantung pada keadaan.
Karena sandarannya adalah Zat Yang Mengatur seluruh keadaan.
2.6 Penutup Bab 2: Tauhid adalah Cahaya Kehidupan
Banyak orang mencari ketenangan ke berbagai tempat.
Ada yang mencarinya dalam kesibukan.
Ada yang mencarinya dalam hiburan.
Ada yang mencarinya dalam pencapaian.
Namun sering kali semua itu hanya memberikan ketenangan sementara.
Tauhid menawarkan sesuatu yang berbeda.
Tauhid tidak mengubah keadaan di luar diri terlebih dahulu.
Tauhid mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan.
Tauhid membuat kita melihat bahwa Allah selalu ada.
Allah selalu dekat.
Allah selalu mendengar.
Allah selalu mengetahui.
Dan Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik daripada apa yang kita pahami.
Ketika kesadaran ini mulai tumbuh, hati menjadi lebih tenang.
Dan ketika hati menjadi lebih tenang, sholat mulai berubah.
Tidak lagi sekadar kewajiban.
Tidak lagi sekadar rutinitas.
Tetapi menjadi pertemuan yang dirindukan.
Menjadi tempat pulang bagi hati yang lelah.
Menjadi sumber kekuatan ketika hidup terasa berat.
Menjadi cahaya di tengah kegelapan.
Sebelum melanjutkan ke bab berikutnya, tanyakan kepada diri Anda:
Apakah selama ini saya hanya mengetahui Allah, atau sudah benar-benar berusaha mengenal-Nya?
Karena semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin mudah ia menghadirkan Allah dalam sholatnya.
Dan semakin Allah hadir dalam sholatnya, semakin dekat ia dengan ketenangan yang selama ini dicarinya.
Muhasabah Bab 2
Cobalah renungkan malam ini:
- Ketika menghadapi masalah, siapa yang pertama kali saya ingat: Allah atau manusia?
- Apa yang paling saya takutkan kehilangan dalam hidup?
- Jika Allah menjadi sandaran utama saya, apakah cara pandang saya terhadap hidup akan berubah?
- Apakah hati saya lebih sering dipenuhi urusan dunia atau kesadaran kepada Allah?
Sebab jalan menuju sholat khusyuk bukan dimulai dari sajadah.
Jalan itu dimulai dari hati yang bertauhid.
Dan hati yang bertauhid adalah hati yang selalu menemukan Allah dalam setiap keadaan.
(Bersambung ke Bab 3: Allah Dekat, Mengapa Kita Merasa Jauh?)
