BAB 2
ALLAH DEKAT, MENGAPA KITA MERASA JAUH?
Ketika Hati Merasa Sendiri
Pernahkah kita berada pada suatu masa ketika hidup terasa sangat berat?
Masalah datang silih berganti.
Doa sudah dipanjatkan berkali-kali.
Ikhtiar sudah dilakukan semampunya.
Namun keadaan seakan belum berubah.
Pada saat seperti itu, tidak sedikit orang yang mulai bertanya dalam hatinya:
"Apakah Allah mendengar doaku?"
"Mengapa aku merasa begitu jauh dari Allah?"
"Mengapa hatiku masih gelisah meskipun aku sudah beribadah?"
Pertanyaan seperti ini pernah muncul dalam hati banyak orang. Bahkan orang-orang saleh pun pernah mengalami masa-masa sulit yang menguji kesabaran dan keyakinan mereka.
Namun yang perlu kita pahami adalah bahwa perasaan jauh dari Allah tidak selalu berarti Allah benar-benar jauh dari kita.
Sering kali yang terjadi justru sebaliknya.
Allah tetap dekat, tetapi hati kitalah yang sedang tertutup oleh kesibukan, dosa, kelalaian, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia.
Karena itulah penting bagi kita untuk memahami kembali bagaimana sebenarnya hubungan Allah dengan hamba-Nya.
Allah Tidak Pernah Jauh Dari Hamba-Nya
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membayangkan bahwa Allah hanya dekat dengan orang-orang yang sangat saleh.
Seolah-olah Allah hanya dekat dengan para ulama, para wali, atau orang-orang yang banyak ibadahnya.
Padahal Allah sendiri telah menjelaskan kedekatan-Nya kepada seluruh hamba-Nya.
Allah berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
Wa idzā sa'alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat."
(QS. Al-Baqarah: 186)
Perhatikan ayat ini.
Ketika Allah berbicara tentang doa dalam ayat tersebut, Allah tidak memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk menjawab terlebih dahulu.
Allah langsung menjawab sendiri:
"Sesungguhnya Aku dekat."
Ini menunjukkan bahwa kedekatan Allah kepada hamba-Nya bukanlah sesuatu yang perlu diragukan.
Allah dekat.
Sangat dekat.
Lebih dekat daripada yang mampu dibayangkan manusia.
Mengapa Kita Tidak Merasakan Kedekatan Itu?
Bayangkan seseorang berjalan di bawah sinar matahari pada siang hari.
Matahari bersinar terang.
Cahayanya menyinari seluruh tempat.
Namun jika orang itu menutup matanya, ia akan merasa gelap.
Bukan karena matahari tidak ada.
Tetapi karena matanya tertutup.
Begitu pula hubungan manusia dengan Allah.
Allah tidak pernah menjauh.
Tetapi hati manusia terkadang tertutup.
Tertutup oleh kesombongan.
Tertutup oleh dosa.
Tertutup oleh kesibukan dunia.
Tertutup oleh kelalaian yang berlangsung terus-menerus.
Akibatnya, seseorang mulai kehilangan kepekaan terhadap kehadiran Allah dalam hidupnya.
Ia masih beribadah.
Ia masih berdoa.
Namun hatinya tidak lagi merasakan kedekatan dengan Allah sebagaimana mestinya.
Dosa Membuat Hati Menjadi Berat
Salah satu penyebab terbesar seseorang merasa jauh dari Allah adalah dosa yang tidak segera disesali dan ditinggalkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ»
Innal-'abda idzā akhṭa'a khaṭī'atan nukitat fī qalbihi nuktatun sauddā'.
"Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya."
(HR. Tirmidzi)
Dosa yang terus diulangi tanpa taubat ibarat debu yang menempel pada cermin.
Semakin lama debu itu semakin tebal.
Akibatnya cermin tidak lagi mampu memantulkan cahaya dengan baik.
Begitu pula hati manusia.
Ketika hati dipenuhi dosa, ia menjadi sulit menerima cahaya petunjuk.
Sholat terasa berat.
Membaca Al-Qur'an terasa biasa.
Dzikir terasa hambar.
Doa terasa kering.
Padahal masalah utamanya bukan pada ibadah tersebut, melainkan pada hati yang perlu dibersihkan.
Allah Lebih Dekat Daripada Urat Leher
Allah berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥablil-warīd.
"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
(QS. Qaf: 16)
Ayat ini mengajarkan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang diri kita.
Allah mengetahui kata-kata yang belum sempat kita ucapkan.
Allah mengetahui tangisan yang kita sembunyikan.
Allah mengetahui luka yang tidak diketahui siapa pun.
Allah mengetahui harapan yang tidak pernah kita ceritakan kepada orang lain.
Kadang manusia tidak memahami kita.
Sahabat tidak memahami kita.
Keluarga tidak memahami kita.
Tetapi Allah mengetahui seluruh keadaan kita.
Kesadaran ini sangat penting dalam perjalanan menuju sholat yang khusyuk.
Karena orang yang yakin Allah selalu dekat akan lebih mudah menghadirkan Allah dalam hatinya.
Kisah Nabi Yunus di Dalam Kegelapan
Salah satu kisah yang sangat mengajarkan tentang kedekatan Allah adalah kisah Nabi Yunus عليه السلام.
Ketika beliau berada di dalam perut ikan, keadaan tampak sangat mustahil untuk diselamatkan.
Gelapnya malam.
Gelapnya lautan.
Gelapnya perut ikan.
Tidak ada manusia yang mampu menolong.
Tidak ada jalan keluar yang terlihat.
Namun justru dalam keadaan itulah Nabi Yunus semakin dekat kepada Allah.
Beliau berdoa:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.
"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim."
(QS. Al-Anbiya': 87)
Ketika seluruh pintu makhluk tertutup, pintu Allah tetap terbuka.
Dan Allah pun menyelamatkan Nabi Yunus.
Kisah ini mengajarkan bahwa sedekat apa pun seseorang dengan kesulitan, Allah selalu lebih dekat daripada kesulitan itu sendiri.
Menghadirkan Allah Dalam Kehidupan Sehari-hari
Banyak orang berharap bisa khusyuk saat sholat, tetapi sepanjang hari jarang mengingat Allah.
Padahal hati yang jarang mengingat Allah akan sulit langsung fokus ketika berdiri dalam sholat.
Karena itu, menghadirkan Allah tidak dimulai dari sajadah.
Menghadirkan Allah dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Saat bangun tidur, ingat Allah.
Saat bekerja, ingat Allah.
Saat makan, ingat Allah.
Saat menghadapi masalah, ingat Allah.
Saat menerima nikmat, ingat Allah.
Jika hati terbiasa mengingat Allah sepanjang hari, maka ketika sholat hati akan lebih mudah kembali kepada-Nya.
Belajar Merasakan Pengawasan Allah
Salah satu rahasia kekhusyukan para ulama terdahulu adalah mereka selalu merasa diawasi Allah.
Mereka sadar bahwa Allah melihat setiap perbuatan mereka.
Mendengar setiap ucapan mereka.
Mengetahui setiap isi hati mereka.
Kesadaran ini membuat mereka lebih berhati-hati dalam hidup.
Bukan karena takut kepada manusia.
Tetapi karena malu kepada Allah.
Ketika kesadaran ini tumbuh, ibadah menjadi lebih hidup.
Sholat tidak lagi dilakukan sekadar rutinitas.
Sholat menjadi perjumpaan yang penuh penghayatan.
Ketika Hati Mulai Dekat Dengan Allah
Salah satu tanda hati mulai dekat dengan Allah adalah munculnya ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan.
Masalah mungkin masih ada.
Ujian mungkin belum selesai.
Kesulitan mungkin belum hilang.
Namun hati tidak lagi mudah panik.
Ada keyakinan bahwa Allah mengetahui semuanya.
Ada keyakinan bahwa Allah memiliki rencana terbaik.
Ada keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang pada waktu yang paling tepat.
Inilah ketenangan yang lahir dari kedekatan dengan Allah.
Jalan Praktis Mendekat Kepada Allah
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari:
Pertama, memperbanyak istighfar.
Kedua, membaca Al-Qur'an dengan penuh perhatian.
Ketiga, menjaga sholat tepat waktu.
Keempat, memperbanyak doa.
Kelima, membiasakan diri bersyukur.
Keenam, mengurangi perbuatan yang mengeraskan hati.
Ketujuh, meluangkan waktu untuk merenung tentang nikmat dan kekuasaan Allah.
Jika dilakukan secara istiqamah, sedikit demi sedikit hati akan menjadi lebih lembut.
Dan ketika hati menjadi lembut, kedekatan dengan Allah akan lebih mudah dirasakan.
Penutup
Allah tidak pernah jauh dari hamba-Nya.
Yang sering terjadi adalah hati manusia terlalu sibuk sehingga tidak menyadari kedekatan tersebut.
Semakin sering seseorang mengingat Allah, semakin dekat hatinya kepada Allah.
Semakin dekat hatinya kepada Allah, semakin tenang kehidupannya.
Dan semakin tenang kehidupannya, semakin mudah ia menghadirkan Allah dalam setiap rakaat sholatnya.
Karena itu, jika suatu saat kita merasa jauh dari Allah, jangan terburu-buru menyalahkan keadaan.
Lihatlah kembali hati kita.
Mungkin Allah tetap dekat.
Tetapi hati kitalah yang perlu dibersihkan, ditenangkan, dan dikembalikan kepada-Nya.
Sebab sesungguhnya perjalanan menuju sholat yang khusyuk bukanlah perjalanan mencari Allah yang jauh, melainkan perjalanan menyadari bahwa Allah selama ini selalu dekat.