BAB 1
MENGENAL ALLAH, AWAL DARI SHOLAT KHUSYUK
Mengapa Kita Sudah Lama Sholat, Tetapi Hati Belum Tenang?
Hampir setiap muslim melaksanakan sholat lima waktu. Sejak baligh hingga usia dewasa, bahkan sampai usia lanjut, kita telah mengulang gerakan sholat ribuan kali. Kita berdiri, rukuk, sujud, duduk, lalu mengucapkan salam. Semua dilakukan sesuai tuntunan yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ.
Namun ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama.
Mengapa setelah bertahun-tahun melaksanakan sholat, hati kita masih sering gelisah?
Mengapa masalah kehidupan masih mudah membuat kita cemas?
Mengapa pikiran sering melayang ke mana-mana saat sholat?
Mengapa setelah selesai sholat, ketenangan yang diharapkan tidak selalu hadir?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk mengajak kita melihat kembali hakikat sholat yang sesungguhnya.
Banyak orang telah membiasakan tubuhnya untuk sholat, tetapi belum membiasakan hatinya untuk hadir bersama Allah. Tubuh berdiri menghadap kiblat, tetapi pikiran dan perasaan masih sibuk mengurus berbagai persoalan dunia.
Padahal sholat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan. Sholat adalah perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya. Sholat adalah saat seorang manusia yang lemah berdiri di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.
Karena itulah, langkah pertama untuk mendapatkan sholat yang khusyuk adalah mengenal Allah dengan lebih baik.
Mengapa Mengenal Allah Sangat Penting?
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan lebih mudah menghormati orang yang dikenalnya. Ia akan lebih mudah mencintai orang yang memahami dirinya. Ia juga akan lebih mudah mempercayai orang yang telah dikenalnya dengan baik.
Begitu pula dalam hubungan seorang hamba dengan Allah.
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa cintanya kepada Allah. Semakin besar rasa cintanya kepada Allah, semakin mudah ia mengingat Allah. Dan semakin sering ia mengingat Allah, semakin tenang pula hatinya.
Sebaliknya, jika seseorang jarang mengenal dan mengingat Allah, maka hatinya akan mudah dipenuhi oleh berbagai kekhawatiran.
Ia khawatir tentang masa depan.
Ia khawatir tentang rezeki.
Ia khawatir tentang kesehatan.
Ia khawatir tentang penilaian manusia.
Padahal semua urusan tersebut berada dalam kekuasaan Allah.
Allah berfirman:
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
Wa mā tasquṭu min waraqatin illā ya‘lamuhā.
"Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya."
(QS. Al-An'am: 59)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah. Jika daun yang jatuh dari pohon saja diketahui oleh Allah, maka tentu Allah juga mengetahui keadaan hidup kita, kesulitan yang kita hadapi, dan doa-doa yang kita panjatkan.
Kesadaran seperti inilah yang akan membuat hati menjadi lebih tenang.
Allah Selalu Dekat Dengan Hamba-Nya
Banyak orang merasa jauh dari Allah. Mereka merasa doanya belum terkabul, hidupnya penuh ujian, atau ibadahnya belum membawa perubahan yang berarti.
Padahal yang sering terjadi bukanlah Allah yang menjauh dari hamba-Nya, melainkan hamba yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga lupa mengingat Allah.
Allah berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Wa naḥnu aqrabu ilaihi min ḥablil-warīd.
"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
(QS. Qaf: 16)
Ayat ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan manusia.
Allah mengetahui apa yang kita pikirkan.
Allah mengetahui apa yang kita rasakan.
Allah mengetahui kesedihan yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun.
Allah mengetahui air mata yang kita sembunyikan.
Allah mengetahui harapan yang kita simpan dalam hati.
Ketika kesadaran ini tumbuh, seseorang akan merasakan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar sendirian.
Dalam keadaan senang maupun susah, Allah selalu dekat.
Perasaan inilah yang menjadi salah satu kunci ketenangan hidup.
Sholat Adalah Saat Menghadap Allah
Bayangkan jika kita mendapat kesempatan bertemu dengan seseorang yang sangat kita hormati. Tentu kita akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Kita akan menjaga sikap, memperhatikan perkataan, dan berusaha fokus selama pertemuan berlangsung.
Lalu bagaimana dengan sholat?
Dalam sholat, kita sedang menghadap Allah, Pencipta langit dan bumi, Raja dari seluruh alam semesta.
Karena itu para ulama terdahulu sangat menjaga persiapan sebelum sholat.
Dikisahkan bahwa Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah ﷺ, setiap kali hendak berwudhu wajahnya berubah pucat.
Ketika ditanya sebabnya, beliau menjawab:
"Tahukah kalian di hadapan siapa aku akan berdiri?"
Jawaban yang singkat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam.
Beliau belum memulai sholat.
Beliau baru akan berwudhu.
Namun hatinya sudah dipenuhi kesadaran bahwa sebentar lagi ia akan berdiri di hadapan Allah.
Kesadaran seperti inilah yang membuat ibadah menjadi hidup.
Penyebab Hati Sulit Khusyuk
Salah satu penyebab utama sulitnya khusyuk adalah karena hati terlalu dipenuhi oleh urusan dunia.
Kita memikirkan pekerjaan.
Kita memikirkan usaha.
Kita memikirkan masalah keluarga.
Kita memikirkan berbagai kebutuhan hidup.
Semua itu memang penting. Islam tidak melarang manusia memikirkan urusan dunia.
Namun masalah muncul ketika urusan dunia menguasai hati sehingga tidak menyisakan ruang untuk mengingat Allah.
Akibatnya, ketika tubuh berdiri dalam sholat, pikiran masih berkelana ke berbagai tempat.
Mulut membaca ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi hati tidak memperhatikan apa yang dibaca.
Karena itu, khusyuk tidak dapat diperoleh hanya dengan memperbaiki gerakan sholat. Khusyuk harus dimulai dengan membersihkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Ketenangan Berasal Dari Mengingat Allah
Setiap manusia mencari ketenangan.
Ada yang mencarinya melalui harta.
Ada yang mencarinya melalui jabatan.
Ada yang mencarinya melalui pujian dan penghargaan.
Namun semua itu tidak selalu mampu memberikan ketenangan yang sesungguhnya.
Banyak orang yang memiliki kekayaan melimpah tetapi hidup dalam kegelisahan.
Banyak orang yang memiliki kedudukan tinggi tetapi tidak merasa bahagia.
Hal ini menunjukkan bahwa ketenangan hati tidak hanya bergantung pada keadaan lahiriah.
Allah telah menjelaskan sumber ketenangan yang sebenarnya dalam firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Alā bi dzikrillāhi taṭma'innul-qulūb.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Semakin sering seseorang mengingat Allah, semakin kuat hatinya menghadapi berbagai persoalan hidup.
Ia tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan.
Ia tetap bersyukur ketika mendapatkan nikmat.
Ia tetap bersabar ketika diuji.
Karena ia yakin bahwa Allah selalu menyertainya.
Belajar Menghadirkan Allah Dalam Kehidupan Sehari-hari
Kehadiran hati dalam sholat sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kehidupan kita di luar sholat.
Jika seseorang jarang mengingat Allah sepanjang hari, maka akan sulit baginya untuk langsung khusyuk ketika berdiri dalam sholat.
Sebaliknya, jika seseorang membiasakan dirinya mengingat Allah dalam berbagai keadaan, maka hatinya akan lebih mudah hadir saat sholat.
Mengingat Allah dapat dilakukan dengan banyak cara.
Membaca Al-Qur'an.
Berzikir.
Berdoa.
Mensyukuri nikmat.
Merenungkan keindahan ciptaan Allah.
Membantu sesama karena mengharap ridha Allah.
Semua itu akan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Sedikit demi sedikit, hati akan menjadi lebih lembut dan lebih mudah menerima petunjuk.
Sholat Khusyuk Adalah Buah Dari Hati Yang Mengenal Allah
Khusyuk bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.
Khusyuk juga bukan kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh para ulama atau orang-orang saleh.
Khusyuk adalah hasil dari perjalanan panjang seorang hamba dalam mengenal Allah.
Ketika seseorang semakin mengenal Allah, ia akan semakin mencintai Allah.
Ketika cintanya kepada Allah bertambah, ia akan semakin senang beribadah.
Ketika ibadah menjadi sesuatu yang dicintai, maka hati akan lebih mudah hadir dalam sholat.
Pada saat itulah sholat tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan jiwa.
Sholat menjadi tempat beristirahat dari berbagai kegelisahan hidup.
Sholat menjadi tempat mengadu.
Sholat menjadi tempat mencari kekuatan.
Sholat menjadi tempat mendekatkan diri kepada Allah.
Dan dari sanalah lahir ketenangan yang selama ini dicari oleh banyak manusia.
Penutup
Perjalanan menuju sholat yang khusyuk dimulai dari mengenal Allah.
Semakin kita mengenal Allah, semakin kita percaya kepada-Nya.
Semakin kita percaya kepada-Nya, semakin tenang hati kita.
Semakin tenang hati kita, semakin mudah kita menghadirkan Allah dalam setiap rakaat sholat.
Oleh karena itu, sebelum mempelajari berbagai cara untuk khusyuk dalam sholat, marilah kita terlebih dahulu memperkuat hubungan kita dengan Allah.
Karena hati yang mengenal Allah akan lebih mudah tunduk kepada-Nya.
Dan hati yang tunduk kepada Allah akan menemukan kenikmatan yang tidak dapat diberikan oleh apa pun selain kedekatan dengan-Nya.