#Bab 3 Sholat Khusyu



BAB 3

MENYADARI NAFAS, MENGINGAT ALLAH

MELATIH KEHADIRAN HATI MENUJU SHOLAT KHUSYUK

Mengapa Pikiran Sulit Diam Saat Sholat?

Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan banyak orang ketika sholat adalah sulitnya menjaga pikiran agar tetap fokus.

Baru saja mengucapkan takbir, pikiran sudah pergi ke mana-mana.

Terkadang teringat pekerjaan yang belum selesai.

Terkadang teringat persoalan keluarga.

Terkadang memikirkan masa depan.

Bahkan ada kalanya seseorang baru sadar bahwa sholatnya hampir selesai, sementara sepanjang sholat pikirannya sibuk dengan hal lain.

Keadaan ini sering membuat seseorang merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.

Ia ingin khusyuk.

Ia ingin merasakan nikmatnya sholat.

Namun pikirannya terus berkelana tanpa kendali.

Mengapa hal ini terjadi?

Karena pikiran manusia memang diciptakan untuk bergerak.

Setiap hari ribuan pikiran muncul dan silih berganti dalam benak kita.

Jika sepanjang hari pikiran dibiarkan berlari tanpa arah, maka saat sholat pikiran itu tidak serta-merta menjadi tenang.

Oleh karena itu, hati perlu dilatih untuk kembali kepada Allah.

Salah satu cara sederhana yang dapat membantu menghadirkan kesadaran kepada Allah adalah dengan menyadari nikmat nafas yang Allah berikan setiap saat.


Nafas: Nikmat Yang Paling Dekat Tetapi Sering Dilupakan

Setiap hari manusia bernafas ribuan kali.

Sejak lahir hingga hari ini, nafas keluar dan masuk tanpa pernah berhenti.

Namun karena terlalu terbiasa, banyak orang tidak lagi menyadari betapa besar nikmat tersebut.

Cobalah renungkan.

Berapa harga satu tarikan nafas?

Berapa biaya yang harus kita keluarkan agar jantung tetap berdetak?

Berapa kemampuan manusia untuk menahan kematian jika Allah menghentikan nafasnya beberapa menit saja?

Tidak ada.

Semua itu adalah karunia Allah yang diberikan tanpa diminta dan tanpa dibayar.

Allah berfirman:

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Wa fī anfusikum afalā tubṣirūn.

"Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

(QS. Adz-Dzariyat: 21)

Ayat ini mengajak manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri.

Salah satu tanda kekuasaan Allah yang paling dekat adalah kehidupan yang sedang berlangsung dalam tubuh kita.

Jantung berdetak.

Darah mengalir.

Paru-paru bekerja.

Nafas keluar dan masuk.

Semua berjalan atas izin Allah.

Ketika seseorang mulai menyadari hal ini, hatinya akan lebih mudah mengingat Allah.


Nafas Mengingatkan Kita Bahwa Kita Membutuhkan Allah

Ada kalanya manusia merasa kuat.

Merasa mampu.

Merasa dapat mengendalikan hidupnya sendiri.

Namun satu tarikan nafas yang tertahan dapat mengingatkan bahwa manusia sebenarnya sangat lemah.

Kita tidak dapat menjamin satu tarikan nafas berikutnya.

Kita tidak dapat memastikan apakah esok masih dapat bangun dari tidur.

Kita tidak dapat memastikan apakah jantung akan terus berdetak sampai malam nanti.

Kesadaran seperti ini bukan untuk menakut-nakuti.

Justru untuk mengingatkan bahwa kita selalu membutuhkan Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Yā ayyuhan-nāsu antumul-fuqarā'u ilallāh, wallāhu huwal-ghaniyyul-ḥamīd.

"Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

(QS. Fatir: 15)

Semakin seseorang menyadari ketergantungannya kepada Allah, semakin mudah ia berserah diri kepada-Nya.

Dan semakin mudah ia berserah diri, semakin tenang pula hatinya.


Ketika Nafas Menjadi Pengingat Kehadiran Allah

Nafas bukan tujuan ibadah.

Nafas juga bukan sesuatu yang disembah.

Namun nafas dapat menjadi sarana untuk menyadarkan hati tentang nikmat dan kehadiran Allah.

Saat seseorang memperhatikan nafasnya dengan penuh kesadaran, ia akan menyadari bahwa hidup yang sedang ia jalani adalah pemberian Allah.

Setiap tarikan nafas adalah karunia.

Setiap hembusan nafas adalah kesempatan.

Kesadaran ini membuat hati lebih mudah bersyukur.

Dan hati yang bersyukur lebih mudah dekat kepada Allah.

Karena itu para ulama sering mengajarkan agar seorang hamba memperbanyak kesadaran terhadap nikmat Allah yang ada pada dirinya sendiri.

Bukan sekadar melihat ke luar, tetapi juga melihat ke dalam dirinya.


Belajar Menenangkan Hati Sebelum Sholat

Banyak orang langsung berdiri untuk sholat setelah sibuk bekerja, berbicara, atau menggunakan telepon genggam.

Tubuh memang sudah berada di tempat sholat.

Namun pikiran masih sibuk dengan aktivitas sebelumnya.

Akibatnya, ketika takbiratul ihram diucapkan, hati belum siap menghadap Allah.

Karena itu, luangkan beberapa saat sebelum sholat.

Duduklah dengan tenang.

Perlambat aktivitas.

Lepaskan sejenak urusan dunia.

Sadari bahwa Allah masih memberikan kehidupan kepada kita melalui nafas yang sedang kita hirup.

Kemudian hadirkan rasa syukur.

Lalu niatkan bahwa beberapa menit ke depan kita akan berdiri menghadap Allah.

Persiapan sederhana seperti ini sering kali membantu hati menjadi lebih tenang saat memulai sholat.


Kisah Orang Saleh Yang Menjaga Kesadaran Hatinya

Diceritakan bahwa sebagian ulama terdahulu sangat menjaga kehadiran hati sebelum memulai sholat.

Mereka tidak tergesa-gesa.

Mereka mempersiapkan diri lahir dan batin.

Ketika waktu sholat tiba, mereka menghentikan kesibukan dunia dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah.

Salah seorang ulama pernah berkata:

"Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan berdiri di hadapan Allah, tetapi masih sibuk memikirkan selain Allah."

Kalimat ini mengajarkan bahwa masalah utama bukan kurangnya waktu untuk khusyuk, melainkan kurangnya kesadaran bahwa kita sedang menghadap Allah.


Hati Yang Hadir Akan Lebih Mudah Khusyuk

Pada dasarnya, khusyuk bukanlah memaksa pikiran agar tidak berpikir sama sekali.

Khusyuk adalah mengembalikan hati kepada Allah setiap kali pikiran mulai berkelana.

Jika pikiran melayang, jangan putus asa.

Segera kembalikan kepada bacaan sholat.

Kembalikan kepada makna yang sedang dibaca.

Kembalikan kepada kesadaran bahwa Allah sedang melihat kita.

Lakukan berulang kali dengan sabar.

Karena khusyuk adalah proses latihan sepanjang hidup.

Semakin sering dilatih, semakin mudah dilakukan.


Menghubungkan Nafas Dengan Rasa Syukur

Setiap kali mengingat nafas, ingatlah bahwa hidup adalah amanah dari Allah.

Tidak ada seorang pun yang mampu membeli tambahan umur.

Tidak ada seorang pun yang mampu menjamin kehidupannya beberapa saat lagi.

Karena itu setiap nafas seharusnya mendekatkan kita kepada rasa syukur.

Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

La'in syakartum la'azīdannakum.

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian."

(QS. Ibrahim: 7)

Orang yang bersyukur akan lebih mudah melihat kebaikan Allah dalam hidupnya.

Akibatnya ia lebih mudah mencintai Allah.

Dan orang yang mencintai Allah akan lebih mudah khusyuk dalam ibadahnya.


Menghadirkan Allah Dalam Setiap Nafas Kehidupan

Tujuan akhir dari kesadaran ini bukanlah sekadar memperhatikan nafas.

Tujuan akhirnya adalah menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Saat bekerja, sadar bahwa Allah memberi kemampuan.

Saat makan, sadar bahwa Allah memberi rezeki.

Saat sehat, sadar bahwa Allah memberi kesehatan.

Saat sakit, sadar bahwa Allah tetap memberikan kasih sayang-Nya.

Jika kesadaran ini tumbuh, maka hati akan semakin sering mengingat Allah.

Dan ketika waktu sholat tiba, hati tidak perlu dipaksa untuk kembali kepada-Nya karena sejak awal ia memang telah hidup bersama ingatan kepada Allah.


Sholat Khusyuk Berawal Dari Hati Yang Sadar

Banyak orang mencari rahasia khusyuk melalui berbagai cara.

Padahal salah satu langkah terpenting adalah membangun kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran bahwa hidup adalah karunia Allah.

Kesadaran bahwa setiap detik adalah pemberian Allah.

Kesadaran bahwa setiap nafas adalah tanda kasih sayang Allah.

Semakin sadar seseorang terhadap nikmat tersebut, semakin mudah ia merasakan kehadiran Allah.

Dan semakin kuat kehadiran Allah dalam hati, semakin mudah pula ia meraih kekhusyukan dalam sholat.


Penutup

Nafas adalah salah satu nikmat terbesar yang sering dilupakan manusia.

Padahal melalui nafas, Allah mengajarkan bahwa hidup ini sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya.

Ketika seseorang mulai menyadari nikmat yang begitu dekat ini, hatinya akan lebih mudah bersyukur.

Ketika hatinya bersyukur, ia akan lebih mudah mengingat Allah.

Ketika ia lebih sering mengingat Allah, ia akan lebih mudah menghadirkan Allah dalam sholat.

Dan ketika Allah hadir dalam kesadaran hatinya, sholat tidak lagi menjadi sekadar kewajiban, melainkan menjadi saat yang paling dirindukan untuk berjumpa dan bermunajat kepada-Nya.

Karena sesungguhnya khusyuk bukan dimulai dari kemampuan mengendalikan pikiran, tetapi dimulai dari hati yang sadar bahwa setiap detik kehidupannya berada dalam limpahan rahmat dan pengawasan Allah Ta'ala.