@ Bab 1 : Mulai Sholat Khusyuk




BAB 1

MENGAPA SHOLAT BELUM MENGUBAH HIDUP KITA?

1.1 Sebuah Pertanyaan yang Mungkin Jarang Kita Ajukan

Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, mengapa setelah bertahun-tahun melaksanakan sholat, hati masih sering gelisah?

Mengapa setelah ribuan kali membaca Al-Fatihah, kita masih mudah marah?

Mengapa setelah sekian lama bersujud, kita masih mudah kecewa ketika keinginan tidak terpenuhi?

Pertanyaan ini mungkin terasa menohok. Namun sesungguhnya inilah pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur jika kita ingin memperbaiki kualitas hidup dan kualitas ibadah kita.

Banyak di antara kita yang telah menjaga sholat sejak kecil. Kita diajarkan tata cara wudhu, gerakan sholat, bacaan sholat, dan berbagai aturan yang berkaitan dengannya. Semua itu sangat penting dan harus dijaga. Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu keadaan hati ketika sholat.

Tubuh kita memang berdiri menghadap kiblat, tetapi apakah hati kita benar-benar menghadap Allah?

Bibir kita membaca ayat demi ayat, tetapi apakah hati kita memahami kepada siapa ayat itu sedang dipersembahkan?

Kita melaksanakan sholat lima waktu setiap hari, tetapi mengapa kehidupan kita kadang tidak jauh berbeda dengan orang yang jarang mengingat Allah?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Bukan pula untuk membuat kita putus asa. Justru sebaliknya, pertanyaan ini adalah pintu awal menuju perubahan.

Sebab perubahan selalu dimulai dari kesadaran.

Orang yang tidak sadar bahwa dirinya sedang tersesat tidak akan pernah mencari jalan pulang.

Orang yang tidak sadar bahwa ada yang kurang dalam ibadahnya tidak akan pernah berusaha memperbaikinya.

Karena itu, sebelum membahas tentang khusyuk, kita perlu terlebih dahulu memahami mengapa sholat yang seharusnya menjadi sumber ketenangan sering kali belum memberikan pengaruh yang mendalam dalam kehidupan kita.

Mungkin masalahnya bukan pada sholat itu sendiri.

Mungkin masalahnya ada pada cara kita memandang sholat.

Mungkin selama ini kita lebih fokus pada gerakan, tetapi kurang memperhatikan kehadiran hati.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita telah lama menjalankan sholat sebagai rutinitas, bukan sebagai perjumpaan dengan Allah.

Renungkan sejenak.

Kapan terakhir kali Anda benar-benar merasakan bahwa sholat adalah momen paling indah dalam hari Anda?

Jika pertanyaan ini terasa sulit dijawab, mungkin di situlah perjalanan kita perlu dimulai.


1.2 Ketika Sholat Menjadi Rutinitas

Setiap manusia memiliki kebiasaan. Ada kebiasaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, dan ada pula kebiasaan yang dilakukan secara otomatis.

Bayangkan seseorang yang setiap hari melewati jalan yang sama menuju tempat kerja. Setelah bertahun-tahun, ia dapat sampai di tujuan tanpa benar-benar mengingat detail perjalanan yang baru saja dilaluinya. Semua berjalan secara otomatis.

Hal yang sama kadang terjadi dalam ibadah.

Adzan berkumandang.

Kita berwudhu.

Kita berdiri.

Kita membaca Al-Fatihah.

Kita ruku'.

Kita sujud.

Lalu salam.

Semuanya selesai.

Namun setelah sholat selesai, hati tidak merasakan apa-apa.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada ketenangan yang mendalam.

Tidak ada bekas yang tertinggal.

Mengapa?

Karena ibadah yang dilakukan tanpa kehadiran hati sering kali berubah menjadi rutinitas.

Padahal Allah tidak hanya melihat gerakan tubuh.

Allah melihat hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Latin:

Innallāha lā yanzhuru ilā shuwarikum wa amwālikum wa lākin yanzhuru ilā qulūbikum wa a'mālikum.

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian."

(HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa inti ibadah terletak pada hati.

Gerakan sholat memang penting.

Bacaan sholat juga penting.

Namun ruh dari semua itu adalah hati yang hadir bersama Allah.

Tanpa hati yang hadir, sholat mudah berubah menjadi aktivitas yang berulang tanpa makna.

Dan ketika makna hilang, pengaruhnya terhadap kehidupan pun menjadi lemah.

Bukankah banyak orang yang hadir secara fisik dalam sebuah pertemuan tetapi pikirannya berada di tempat lain?

Demikian pula dalam sholat.

Tubuh bisa berada di masjid, tetapi pikiran berada di pasar.

Tubuh bisa sedang membaca Al-Fatihah, tetapi hati sedang menghitung keuntungan usaha.

Tubuh sedang sujud, tetapi pikiran sedang memikirkan masalah yang belum selesai.

Akibatnya, sholat berlangsung tetapi perjumpaan dengan Allah tidak benar-benar terjadi.

Renungkanlah.

Apakah selama ini kita benar-benar sholat, ataukah hanya mengulangi gerakan sholat?


1.3 Allah Menjadikan Sholat sebagai Penolong, Bukan Beban

Banyak orang memandang sholat sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.

Pandangan ini tidak salah.

Memang sholat adalah kewajiban.

Namun jika kita hanya memandang sholat sebagai kewajiban, kita akan kehilangan keindahan yang terkandung di dalamnya.

Allah tidak menurunkan sholat untuk membebani manusia.

Allah menghadiahkan sholat untuk menolong manusia.

Allah berfirman:

﴿ وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ ﴾

Latin:

Wasta'īnū bish-shabri wash-shalāh, wa innahā lakabīratun illā 'alal khāsyi'īn.

Artinya:

"Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

(QS. Al-Baqarah: 45)

Perhatikan baik-baik ayat ini.

Allah tidak mengatakan, "Jadikanlah harta sebagai penolongmu."

Allah tidak mengatakan, "Jadikanlah jabatan sebagai penolongmu."

Allah justru menunjuk kepada sholat.

Mengapa?

Karena Allah mengetahui bahwa manusia akan menghadapi banyak masalah dalam hidupnya.

Akan ada kegagalan.

Akan ada kehilangan.

Akan ada kesedihan.

Akan ada kekecewaan.

Dan ketika semua itu datang, manusia membutuhkan tempat kembali.

Tempat itulah sholat.

Sayangnya, banyak di antara kita justru menjauh dari sholat ketika menghadapi masalah.

Padahal di situlah seharusnya kita mendekat.

Rasulullah ﷺ ketika menghadapi persoalan berat justru segera mendirikan sholat.

Karena beliau memahami bahwa ketenangan tidak dicari dari dunia terlebih dahulu.

Ketenangan dicari dari Allah.

Mungkin selama ini kita terlalu sering membawa masalah ke dalam pikiran, tetapi jarang membawanya ke dalam sujud.

Mungkin itulah sebabnya hati kita tetap lelah meskipun masalah telah selesai.

Karena yang dibutuhkan hati bukan hanya solusi.

Yang dibutuhkan hati adalah kedekatan dengan Allah.


1.4 Akar Masalahnya: Kita Mengenal Sholat, Tetapi Belum Mengenal Allah

Inilah pembahasan yang paling penting dalam bab ini.

Banyak orang mengenal tata cara sholat.

Tetapi belum sungguh-sungguh mengenal Allah.

Kita tahu bahwa Allah Maha Besar.

Tetapi apakah kita benar-benar merasakan kebesaran-Nya?

Kita tahu bahwa Allah Maha Melihat.

Tetapi apakah kita hidup dengan kesadaran bahwa Allah sedang melihat kita setiap saat?

Kita tahu bahwa Allah Maha Mendengar.

Tetapi apakah kita merasa bahwa setiap doa kita didengar oleh-Nya?

Di sinilah letak perbedaannya.

Ada perbedaan besar antara mengetahui dan menyadari.

Seseorang dapat mengetahui bahwa api itu panas.

Namun ia baru benar-benar menyadarinya ketika menyentuh api tersebut.

Demikian pula dengan tauhid.

Banyak orang mengetahui Allah.

Tetapi belum hidup bersama kesadaran tentang Allah.

Padahal khusyuk lahir dari kesadaran itu.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin mudah ia menghadirkan Allah dalam sholat.

Dan semakin Allah hadir dalam hatinya, semakin tenang kehidupannya.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله pernah menjelaskan bahwa di dalam hati manusia terdapat kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi kecuali dengan mengenal Allah, mencintai-Nya, dan dekat dengan-Nya.

Karena itu, akar dari sholat khusyuk bukanlah teknik.

Akar dari sholat khusyuk adalah ma'rifatullah, yaitu mengenal Allah.

Inilah perjalanan yang akan kita tempuh bersama dalam buku ini.

Perjalanan bukan sekadar memperbaiki gerakan.

Tetapi memperbaiki hubungan hati dengan Allah.

Karena ketika hati telah mengenal Allah, sholat tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat.

Sholat berubah menjadi kebutuhan.

Sholat berubah menjadi tempat pulang.

Sholat berubah menjadi sumber ketenangan.

Dan dari sinilah jalan menuju khusyuk yang sesungguhnya dimulai.

Sebelum kita mencari cara menghadirkan hati dalam sholat, mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu:

"Seberapa jauh sebenarnya aku mengenal Allah yang selama ini aku sembah?"

Sebab seseorang tidak akan merindukan perjumpaan jika ia belum mengenal siapa yang akan ditemuinya.

1.5 Ketika Hati Hadir, Sholat Mulai Mengubah Kehidupan

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang wajahnya tampak tenang?

Masalah hidupnya tidak sedikit.

Ujian yang dihadapinya juga tidak ringan.

Namun ada keteduhan yang terpancar dari dirinya.

Ketika berbicara, ia tidak mudah marah.

Ketika menghadapi masalah, ia tidak mudah panik.

Ketika kehilangan sesuatu, ia tidak mudah hancur.

Apa rahasianya?

Tidak selalu karena hidupnya lebih mudah daripada kita.

Tidak selalu karena ia lebih kaya atau lebih sukses.

Sering kali rahasianya adalah karena ia memiliki hubungan yang baik dengan Allah.

Hubungan itu tidak hanya terlihat ketika ia berada di masjid.

Hubungan itu hidup dalam kesehariannya.

Ia membawa Allah dalam cara berpikirnya.

Ia membawa Allah dalam keputusannya.

Ia membawa Allah dalam kesedihan dan kebahagiaannya.

Dan salah satu sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya adalah sholat.

Sholat yang dilakukan dengan hati yang hadir perlahan-lahan mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.

Dahulu ia mudah mengeluh.

Sekarang ia lebih mudah bersyukur.

Dahulu ia mudah menyalahkan keadaan.

Sekarang ia lebih mudah melakukan introspeksi.

Dahulu ia merasa sendirian menghadapi masalah.

Sekarang ia merasa ditemani oleh Allah.

Inilah salah satu keajaiban sholat.

Perubahan yang terjadi sering kali tidak langsung terlihat.

Seperti benih yang ditanam di dalam tanah.

Pada awalnya tidak tampak apa-apa.

Namun perlahan-lahan akar mulai tumbuh.

Kemudian batang mulai muncul.

Lalu daun berkembang.

Hingga akhirnya menghasilkan buah.

Begitu pula sholat.

Ketika dilakukan dengan kesadaran, sholat menumbuhkan kekuatan batin yang tidak terlihat tetapi sangat nyata.

Allah berfirman:

﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾

Latin:

Qad aflahal mu'minūn. Alladzīna hum fī shalātihim khāsyi'ūn.

Artinya:

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam sholatnya."

(QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Perhatikan bahwa Allah mengawali ayat ini dengan kata "beruntung".

Seolah Allah ingin memberitahu kita bahwa salah satu kunci keberuntungan hidup adalah sholat yang khusyuk.

Bukan hanya keberuntungan akhirat.

Tetapi juga keberuntungan dalam menjalani kehidupan dunia.

Karena hati yang dekat dengan Allah akan lebih kuat menghadapi berbagai keadaan.

Mungkin masalah tidak langsung hilang.

Namun hati menjadi lebih siap menghadapinya.

Dan sering kali, ketenangan hati jauh lebih berharga daripada hilangnya masalah itu sendiri.

Renungkanlah.

Selama ini ketika hidup terasa berat, apakah kita lebih sering mencari ketenangan kepada Allah atau kepada dunia?


1.6 Mengapa Sholat Kadang Tidak Membekas dalam Hati?

Ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur.

Sebab tidak sedikit orang yang melaksanakan sholat, tetapi belum merasakan dampaknya dalam kehidupan.

Bukan karena sholatnya tidak benar.

Bukan pula karena Allah tidak menerima ibadahnya.

Tetapi karena ada penghalang yang membuat cahaya sholat sulit masuk ke dalam hati.

Salah satu penghalang terbesar adalah kelalaian.

Dalam bahasa Arab disebut ghaflah.

Yaitu keadaan ketika hati hidup jauh dari kesadaran kepada Allah.

Secara fisik seseorang hidup.

Tetapi secara ruhani ia tertidur.

Ia makan.

Ia bekerja.

Ia beraktivitas.

Namun jarang mengingat Allah.

Jarang merenungkan tujuan hidup.

Jarang memikirkan akhirat.

Jarang bertanya kepada dirinya sendiri:

"Aku sedang menuju ke mana?"

Akibatnya hidup berjalan seperti mesin.

Hari berganti hari.

Bulan berganti bulan.

Tahun berganti tahun.

Tetapi hati tidak berkembang.

Padahal Allah berulang kali mengingatkan manusia agar tidak hidup dalam kelalaian.

Allah berfirman:

﴿ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ ﴾

Latin:

Wa lā takun minal ghāfilīn.

Artinya:

"Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai."

(QS. Al-A'raf: 205)

Kelalaian inilah yang sering masuk ke dalam sholat.

Tubuh berdiri.

Mulut membaca.

Tetapi hati tidak hadir.

Padahal hati adalah inti dari ibadah.

Bayangkan seseorang berbicara kepada Anda tetapi pikirannya berada di tempat lain.

Tentu Anda akan merasa bahwa pembicaraan itu tidak sungguh-sungguh.

Begitu pula ketika kita berdiri di hadapan Allah tanpa menghadirkan hati.

Bukan berarti sholat kita tidak sah.

Namun kita kehilangan banyak keindahan yang sebenarnya Allah siapkan di dalamnya.

Karena itu langkah pertama menuju khusyuk adalah membangunkan hati yang tertidur.

Membangunkan kesadaran bahwa setiap sholat adalah pertemuan dengan Allah.

Dan setiap pertemuan dengan Allah adalah kesempatan yang sangat berharga.

Pertanyaannya, apakah kita sudah memperlakukan sholat sebagai kesempatan berharga itu?


1.7 Penyakit Hati yang Menghalangi Kekhusyukan

Jika tubuh memiliki penyakit, hati juga memiliki penyakit.

Bahkan sering kali penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit fisik.

Penyakit fisik hanya memengaruhi kehidupan dunia.

Tetapi penyakit hati dapat merusak kehidupan dunia sekaligus akhirat.

Salah satu penyakit hati yang paling sering tidak disadari adalah terlalu bergantung kepada dunia.

Kita merasa tenang jika uang bertambah.

Kita merasa aman jika bisnis berjalan lancar.

Kita merasa bahagia jika dipuji orang lain.

Namun ketika semua itu berkurang, hati ikut goyah.

Mengapa?

Karena hati sedang menggantungkan kebahagiaannya kepada sesuatu yang tidak tetap.

Padahal segala sesuatu di dunia bersifat sementara.

Harta bisa hilang.

Jabatan bisa berakhir.

Kesehatan bisa berubah.

Manusia bisa pergi.

Jika hati bergantung kepada sesuatu yang berubah, maka ketenangan juga akan ikut berubah.

Inilah sebabnya mengapa banyak orang yang terlihat sukses tetapi tetap gelisah.

Karena ketenangan sejati tidak lahir dari apa yang kita miliki.

Ketenangan lahir dari hubungan dengan Allah.

Allah berfirman:

﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾

Latin:

Alā bidzikrillāhi tathma'innul qulūb.

Artinya:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini sangat menakjubkan.

Allah tidak mengatakan bahwa hati menjadi tenang karena kekayaan.

Tidak pula karena jabatan.

Tidak pula karena manusia.

Allah langsung menunjukkan sumber ketenangan yang sebenarnya.

Yaitu mengingat Allah.

Mengapa?

Karena hati manusia diciptakan oleh Allah.

Dan tidak ada yang lebih memahami kebutuhan hati selain Allah sendiri.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki keadaan di luar diri.

Padahal yang perlu lebih dahulu diperbaiki adalah hubungan hati dengan Allah.

Karena hati yang dekat kepada Allah tetap dapat tenang meskipun keadaan belum sempurna.

Sedangkan hati yang jauh dari Allah akan tetap gelisah meskipun memiliki banyak hal.

Renungkanlah.

Apa yang selama ini menjadi sandaran utama hati kita?

Allah atau dunia?


1.8 Awal Perubahan Adalah Kesadaran

Banyak orang ingin hidupnya berubah.

Ingin lebih tenang.

Ingin lebih dekat kepada Allah.

Ingin lebih khusyuk dalam sholat.

Namun perubahan tidak dimulai dari luar.

Perubahan selalu dimulai dari dalam.

Yaitu dari kesadaran.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾

Latin:

Innallāha lā yughayyiru mā biqaumin hattā yughayyirū mā bi anfusihim.

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."

(QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini memberikan harapan besar.

Tidak peduli bagaimana keadaan kita saat ini.

Tidak peduli seberapa jauh kita merasa dari Allah.

Tidak peduli seberapa sering kita gagal memperbaiki diri.

Pintu perubahan selalu terbuka.

Asalkan kita mau memulai.

Dan langkah pertama itu adalah menyadari bahwa kita membutuhkan Allah lebih dari apa pun.

Membutuhkan Allah lebih dari harta.

Lebih dari jabatan.

Lebih dari pujian manusia.

Karena sesungguhnya, semua pencarian manusia pada akhirnya bermuara pada satu hal:

Keinginan untuk menemukan ketenangan.

Dan ketenangan itu tidak akan ditemukan sampai hati kembali kepada Allah.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti sejenak.

Bukan untuk menyalahkan masa lalu.

Tetapi untuk memulai perjalanan yang baru.

Perjalanan mengenal Allah.

Perjalanan mengenal diri sendiri.

Perjalanan menemukan kembali makna sholat.

Karena dari sinilah pintu menuju khusyuk yang sesungguhnya akan terbuka.

Dan dari sinilah kehidupan yang lebih tenang akan dimulai.

1.9 Sholat yang Mengubah Akhlak

Pernahkah kita bertemu seseorang yang rajin sholat, tetapi masih mudah menyakiti orang lain?

Atau mungkin kita pernah melihat seseorang yang tidak pernah meninggalkan masjid, tetapi masih mudah marah, mudah iri, mudah merendahkan orang lain, dan sulit menerima nasihat?

Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan.

Bukankah sholat seharusnya membuat seseorang menjadi lebih baik?

Bukankah sholat seharusnya mendekatkan seseorang kepada Allah?

Bukankah sholat seharusnya melahirkan akhlak yang mulia?

Jawabannya tentu iya.

Sholat yang benar akan mengubah perilaku seseorang.

Sholat yang hidup akan memengaruhi cara seseorang berbicara.

Sholat yang khusyuk akan memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain.

Karena sholat bukan sekadar ibadah yang dilakukan lima kali sehari.

Sholat adalah pendidikan jiwa yang berlangsung sepanjang hidup.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ﴾

Latin:

Innaṣ-ṣalāta tanhā 'anil faḥsyā'i wal munkar.

Artinya:

"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."

(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini sangat jelas.

Allah tidak mengatakan bahwa sholat hanya menggugurkan kewajiban.

Allah menjelaskan bahwa sholat memiliki fungsi pendidikan.

Sholat seharusnya menjadi benteng yang menjaga manusia dari keburukan.

Jika seseorang benar-benar berdiri di hadapan Allah lima kali sehari dengan hati yang sadar, tentu ia akan merasa malu untuk berbuat maksiat.

Jika seseorang benar-benar menyadari bahwa Allah selalu melihatnya, tentu ia akan lebih berhati-hati dalam perkataan dan perbuatannya.

Namun mengapa terkadang pengaruh itu belum terlihat?

Karena sering kali yang hadir dalam sholat hanyalah tubuh, sementara hati masih jauh dari Allah.

Padahal perubahan akhlak tidak dimulai dari tubuh.

Perubahan akhlak dimulai dari hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Latin:

Alā wa inna fil jasadi mudhghatan, idzā ṣalaḥat ṣalaḥal jasadu kulluhu, wa idzā fasadat fasadal jasadu kulluhu, alā wa hiyal qalb.

Artinya:

"Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa akar dari seluruh perilaku manusia adalah hati.

Jika hati dekat kepada Allah, akhlak akan membaik.

Jika hati hidup dengan kesadaran tauhid, perilaku akan berubah.

Karena itu ukuran keberhasilan sholat bukan hanya seberapa sering kita melaksanakannya.

Tetapi juga seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita.

Apakah setelah sholat kita menjadi lebih sabar?

Apakah setelah sholat kita menjadi lebih jujur?

Apakah setelah sholat kita menjadi lebih rendah hati?

Apakah setelah sholat kita lebih mudah memaafkan?

Jika belum, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya gerakan sholat, tetapi hubungan hati kita dengan Allah.

Sebab sholat yang benar tidak hanya mengubah cara kita beribadah.

Sholat yang benar akan mengubah cara kita hidup.

Renungkanlah.

Apakah sholat yang selama ini kita lakukan sudah meninggalkan jejak dalam akhlak kita?

Ataukah ia hanya berhenti di sajadah?


1.10 Penutup Bab 1: Mengenal Allah, Awal dari Sholat Khusyuk

Pada akhirnya, perjalanan menuju sholat khusyuk bukanlah perjalanan memperbaiki gerakan semata.

Perjalanan ini adalah perjalanan hati.

Perjalanan mengenal Allah.

Perjalanan menemukan kembali makna kehidupan.

Perjalanan pulang kepada Sang Pencipta.

Sering kali kita sibuk memperbaiki banyak hal dalam hidup.

Memperbaiki usaha.

Memperbaiki ekonomi.

Memperbaiki penampilan.

Memperbaiki rumah.

Namun tanpa sadar kita lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Padahal hubungan itulah yang menjadi sumber kekuatan bagi seluruh aspek kehidupan.

Bayangkan seseorang yang memiliki rumah megah tetapi tidak memiliki ketenangan.

Memiliki kendaraan mewah tetapi sulit tidur.

Memiliki banyak teman tetapi merasa kesepian.

Memiliki jabatan tinggi tetapi selalu cemas.

Apa yang sebenarnya kurang?

Bukan hartanya.

Bukan jabatannya.

Bukan lingkungannya.

Yang kurang adalah kedekatan dengan Allah.

Karena hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah.

Hati manusia diciptakan untuk mencintai Allah.

Hati manusia diciptakan untuk kembali kepada Allah.

Dan selama hati belum menemukan Allah sebagai sandaran utama, ia akan terus merasa ada sesuatu yang kurang.

Walaupun dunia telah berada di genggamannya.

Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata:

"Carilah manisnya ibadah dalam tiga perkara: dalam sholat, dalam dzikir, dan dalam membaca Al-Qur'an. Jika engkau tidak menemukannya, ketahuilah bahwa pintu hatimu sedang tertutup."

Perkataan ini bukan untuk membuat kita putus asa.

Tetapi untuk mengajak kita melakukan introspeksi.

Sebab terkadang masalah terbesar bukanlah karena Allah menjauh dari kita.

Justru kitalah yang terlalu jauh dari Allah.

Kita terlalu sibuk dengan dunia.

Terlalu sibuk dengan urusan manusia.

Terlalu sibuk dengan apa yang ada di luar diri.

Hingga lupa memperhatikan keadaan hati sendiri.

Padahal Allah selalu dekat.

Allah berfirman:

﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾

Latin:

Wa idzā sa'alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb. Ujību da'watad dā'i idzā da'ān.

Artinya:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku."

(QS. Al-Baqarah: 186)

Perhatikan keindahan ayat ini.

Ketika banyak ayat lain menggunakan perantara, pada ayat ini Allah langsung menjawab.

Seakan-akan Allah ingin menunjukkan betapa dekatnya Dia dengan hamba-Nya.

Masalahnya bukan Allah yang jauh.

Masalahnya sering kali hati kita yang tertutup.

Karena itu, sebelum kita berbicara tentang teknik khusyuk, sebelum kita membahas cara menghadirkan hati dalam sholat, ada satu pekerjaan besar yang harus kita lakukan.

Yaitu mengenal Allah.

Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mencintai-Nya.

Semakin kita mencintai-Nya, semakin kita merindukan perjumpaan dengan-Nya.

Semakin kita merindukan-Nya, semakin mudah kita khusyuk dalam sholat.

Karena khusyuk bukanlah hasil dari paksaan.

Khusyuk adalah buah dari cinta.

Khusyuk adalah buah dari pengenalan.

Khusyuk adalah buah dari hati yang sadar bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan Allah Yang Maha Agung.

Maka perjalanan kita dalam buku ini baru saja dimulai.

Bab pertama ini mengajak kita menyadari bahwa masalah utama sering kali bukan pada tata cara sholat, tetapi pada kualitas hubungan kita dengan Allah.

Dan pada bab berikutnya, kita akan memasuki pembahasan yang lebih mendalam:

Bagaimana sebenarnya mengenal Allah?

Mengapa banyak orang mengetahui Allah tetapi belum merasakan kehadiran-Nya dalam hidup?

Dan bagaimana tauhid dapat mengubah cara pandang kita terhadap diri sendiri, kehidupan, dan sholat?

Karena sesungguhnya, sholat khusyuk selalu dimulai dari satu titik:

Mengenal Allah dengan hati, bukan sekadar dengan pikiran.


MUHASABAH BAB 1

Sebelum melanjutkan ke bab berikutnya, cobalah duduk sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:

  • Ketika saya sholat, siapa yang sebenarnya lebih hadir dalam pikiran saya: Allah atau urusan dunia?
  • Apakah saya melaksanakan sholat karena kebutuhan hati atau hanya karena kewajiban?
  • Kapan terakhir kali saya menangis, tersentuh, atau merasakan kedekatan dengan Allah dalam sholat?
  • Apakah sholat saya sudah memperbaiki akhlak dan cara saya memperlakukan orang lain?
  • Jika hari ini adalah sholat terakhir saya, apakah saya akan melaksanakannya dengan cara yang sama seperti selama ini?

Mungkin jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman.

Tetapi sering kali ketidaknyamanan adalah awal dari kesadaran.

Dan kesadaran adalah awal dari perubahan.

Karena hati yang mulai sadar akan lebih mudah menemukan jalan pulang menuju Allah.