TAUHID DAN MA‘RIFATULLAH
Dari Keyakinan Menuju Penyaksian
Ilmu tauhid dan tasawuf selalu berjalan beriringan. seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui hukum-hukum agama, tetapi juga harus mengenal Tuhannya dengan benar. Sebab tujuan akhir dari seluruh ilmu agama adalah mengantarkan manusia kepada Allah.
Karena itu, tidak lengkap jika hanya mengajarkan tauhid (التَّوْحِيدُ) sebagai keyakinan, tetapi juga harus memahamkan ma‘rifatullah (الْمَعْرِفَةُ بِاللَّهِ) sebagai buah dari kesempurnaan iman.
Dalam kitab-kitab klasik yang dipelajari di pesantren seperti Aqidatul Awam, Kharidatul Bahiyyah, Ummul Barahin, Ihya' Ulumiddin, Bidayatul Hidayah, Al-Hikam, Risalah Qusyairiyah, hingga Minhajul 'Abidin, pembahasan tauhid selalu menjadi fondasi sebelum memasuki wilayah tasawuf dan ma‘rifat.
Mengapa demikian?
Karena seseorang tidak mungkin mengenal Alla
h dengan benar jika keyakinannya kepada Allah belum benar.
Catatan Ringkas Tentang Tauhid Tasawuf dan Marifat
1. Tauhid: Awal dari Segala Pengenalan kepada Allah
التَّوْحِيدُ
Tauhid berarti mengesakan Allah dalam dzat, sifat, af'al (perbuatan), dan ibadah.
Imam Ibrahim Al-Laqqani dalam kitab Jauharatut Tauhid berkata:
أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْإِنْسَانِ
مَعْرِفَةُ الْإِلٰهِ بِاسْتِيقَانِ
"Kewajiban pertama atas manusia adalah mengenal Allah dengan keyakinan yang mantap."
Kitab ini menjadi rujukan utama ilmu tauhid di banyak pesantren tradisional.
Artinya, sebelum berbicara tentang ibadah, akhlak, bahkan tasawuf, seseorang harus terlebih dahulu mengenal siapa Tuhannya.
2. Tauhid, Mengenal Allah Menurut Imam As-Sanusi
Dalam kitab Ummul Barahin, Imam Muhammad bin Yusuf As-Sanusi menjelaskan bahwa mengenal Allah merupakan kewajiban pertama bagi seorang mukallaf.
Beliau menegaskan bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang wajib diketahui.
Di antaranya:
الْوُجُودُ
(Wujud)
الْقِدَمُ
(Qidam)
الْبَقَاءُ
(Baqa')
مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ
(Berbeda dengan makhluk)
قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ
(Berdiri sendiri)
الْوَحْدَانِيَّةُ
(Maha Esa)
Melalui pemahaman sifat-sifat Allah inilah seseorang membangun fondasi tauhid yang kokoh.
3. Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali
Dalam Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tauhid memiliki beberapa tingkatan.
Beliau menulis:
التَّوْحِيدُ لُبُّ الْإِيمَانِ
"Tauhid adalah inti dari keimanan."
Menurut beliau terdapat empat tingkatan tauhid:
Pertama
Tauhid orang munafik.
Lisan mengucapkan syahadat tetapi hati mengingkarinya.
Kedua
Tauhid kaum Muslim awam.
Meyakini keesaan Allah sebagaimana diajarkan syariat.
Ketiga
Tauhid kaum muqarrabin.
Mulai melihat seluruh kejadian berasal dari Allah.
Keempat
Tauhid shiddiqin.
Tidak melihat dalam wujud ini kecuali kekuasaan Allah.
Inilah tingkatan yang sering disebut oleh para sufi sebagai tauhid syuhudi.
4. Ma‘rifat Menurut Imam Al-Qusyairi
Dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi menjelaskan:
الْمَعْرِفَةُ صِفَةُ مَنْ عَرَفَ اللَّهَ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
"Ma‘rifat adalah keadaan orang yang mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya."
Beliau menjelaskan bahwa ma‘rifat bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi kesadaran hati yang lahir dari kedekatan kepada Allah.
Seseorang yang telah mencapai ma‘rifat akan semakin tawadhu', semakin takut kepada Allah, dan semakin mencintai-Nya.
5. Ma‘rifat Menurut Imam Junaid Al-Baghdadi
Imam Junaid dikenal sebagai pemimpin kaum sufi yang sangat berpegang pada syariat.
Beliau berkata:
الْمَعْرِفَةُ وُجُودُ الْحَقِّ مَعَ فَقْدِكَ نَفْسَكَ
"Ma‘rifat adalah hadirnya kesadaran terhadap Allah ketika ego dirimu memudar."
Maksudnya, seorang arif tidak lagi sibuk memuji dirinya, membanggakan amalnya, atau merasa paling benar.
Ia lebih sibuk menyaksikan kebesaran Allah daripada kebesaran dirinya sendiri.
6. Ma‘rifat Menurut Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Dalam Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan:
مَنْ عَرَفَ اللَّهَ أَحَبَّهُ
"Barang siapa mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya."
Menurut beliau, ma‘rifat melahirkan:
Mahabbah (cinta kepada Allah)
Khauf (takut kepada Allah)
Raja' (harap kepada Allah)
Tawakal
Ridha
Karena itu ma‘rifat bukan tujuan akhir, melainkan pintu menuju cinta Ilahi.
7. Penjelasan Al-Hikam Ibnu Athaillah
Kitab Al-Hikam merupakan kitab tasawuf yang sangat populer di pesantren.
Ibnu Athaillah berkata:
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ
"Bagaimana hati akan bercahaya jika gambar-gambar dunia masih memenuhi cerminnya?"
Hikmah ini menjelaskan bahwa ma‘rifat memerlukan hati yang bersih. akan sulit menerima cahaya ma‘rifat
Hati yang dipenuhi:
Kesombongan
Dengki
Cinta dunia berlebihan
Riya'
Ujub
8. Penjelasan Syekh Zarnuji
Dalam kitab Ta'limul Muta'allim, Syekh Az-Zarnuji menegaskan:
أَفْضَلُ الْعِلْمِ عِلْمُ الْحَالِ
"Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang memperbaiki keadaan hati."
Karena itu tujuan belajar bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi memperbaiki hubungan dengan Allah.
Inilah inti perjalanan dari tauhid menuju ma‘rifat.
9. Hubungan Tauhid dan Ma‘rifat
Para ulama sering mengibaratkan:
Tauhid adalah peta.
Ma‘rifat adalah perjalanan.
Atau:
Tauhid adalah mengetahui api itu panas.
Ma‘rifat adalah merasakan panasnya api.
Atau:
Tauhid adalah mengetahui madu itu manis.
Ma‘rifat adalah merasakan manisnya madu.
Seseorang dapat membaca ratusan kitab tentang Allah.
Namun selama hatinya belum hidup dengan dzikir, muraqabah, dan keikhlasan, maka ia baru sampai pada ilmu, belum sampai pada ma‘rifat.
10. Jalan Menuju Ma‘rifat Menurut Kitab Minhajul 'Abidin
Dalam kitab Minhajul 'Abidin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang salik harus melewati beberapa tahapan:
الْعِلْمُ
(Ilmu)
التَّوْبَةُ
(Taubat)
الْعَوَائِقُ
(Mengatasi penghalang)
الْعَوَارِضُ
(Menghadapi ujian)
الْبَوَاعِثُ
(Membangun motivasi ibadah)
الْقَوَادِحُ
(Membersihkan niat)
الشُّكْرُ
(Syukur)
Tahapan-tahapan ini pada hakikatnya adalah proses penyucian hati agar layak menerima cahaya ma‘rifat.
11. Buah Ma‘rifat: Mahabbah kepada Allah
Puncak ma‘rifat adalah cinta.
Rabi‘ah Al-Adawiyah berkata:
"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka jangan Engkau halangi aku dari keindahan-Mu."
Inilah maqam para pecinta Allah.
Mereka beribadah bukan karena transaksi pahala semata, tetapi karena mengenal dan mencintai Allah.
Kesimpulan
Tauhid (التَّوْحِيدُ) adalah fondasi iman.
Ma‘rifat (الْمَعْرِفَةُ) adalah buah dari tauhid yang matang.
Tauhid mengenalkan Allah kepada akal.
Ma‘rifat menghadirkan Allah dalam hati.
Tauhid melahirkan keyakinan.
Ma‘rifat melahirkan kedekatan.
Tauhid adalah awal jalan.
Ma‘rifat adalah puncak perjalanan.
Sebagaimana ungkapan para ulama tasawuf:
مَنْ عَرَفَ اللَّهَ أَحَبَّهُ
"Barang siapa mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya."
Dan ketika cinta kepada Allah telah memenuhi hati, maka dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan hanya jembatan untuk menuju ridha-Nya. Di situlah seorang hamba menemukan makna terdalam dari kehidupan: mengenal Allah, mencintai Allah, dan kembali kepada Allah.
